Survei sederhana yang dilakukan detikHealth memunculkan berbagai pendapat soal hasil buruk dalam premarital check up. Tanpa membedakan status pernikahan para responden, 59,3 persen memilih tetap melanjutkan pernikahan, 15,4 persen batal, 6,6 persen ditunda dan 18,7 persen ragu-ragu.
Tetap menikah betatapun buruknya hasil pemeriksaan kesehatan tentu bukan pilihan yang mudah. Hanya kekuatan cinta yang begitu besar yang membuat sebagian besar pembaca detikHealth untuk memilih jawaban tetap menikah dengan segala konsekuensinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun untuk kondisi dan jenis gangguan kesehatan tertentu, tetap menikah bukan pilihan yang bijak. Thalasemia misalnya, jika kedua pasangan merupakan pembawa sifat thalasemia maka dianjurkan untuk tidak menikah untuk menghindari thalasemia mayor pada anaknya.
Risiko yang harus ditanggung kadang terlalu besar, bukan hanya bagi kedua pasangan tetapi juga keturunan yang nantinya akan dihasilkan. Sebagai contoh jika anak hasil pernikahan mengidap thalasemia mayor, maka seumur hidup harus tergantung pada transfusi darah yang tentunya tidak murah.
Oleh karenanya, beberapa responden memilih untuk membatalkan pernikahan dengan pertimbangan-pertimbangan semacam itu. Untuk kasus lain yang masih bisa disembuhkan, sebagian pembaca memilih untuk pending atau menunda pernikahan sambil mengupayakan pengobatan.
Keputusan untuk batal atau tetap menikah ketika hasil premarital check up tidak bagus memang dilematis. Manusia memang tidak bisa memilih dengan siapa akan jatuh cinta, namun perlu dipahami bahwa penyakit dan cacat genetik kadang tidak mengenal kompromi.
(up/)










































