Menurut perkiraan Badan Kesehatan Dunia (WHO), dari 200 juta kehamilan per tahun 38 persen di antaranya merupakan kehamilan tidak diinginkan. Hal itu umum terjadi karena berbagai alasan. Misalnya karena gagal kontrasepsi, anaknya sudah terlalu banyak, atau anaknya yang paling kecil dirasa masih sangat kecil untuk punya adik.
Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebut masalah kehamilan tidak diinginkan banyak terjadi di kalangan suami istri. "Korban pemerkosaan persentasenya sedikit tidak signifikan, masih lebih banyak dari kalangan yang sudah menikah," kata Direktur Kesehatan Reproduksi BKKBN, Ari Goedadi, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (6/2/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya kita kerja sama dengan TNI dan mengutamakan kontrasepsi jangka panjang. Jadi nggak perlu minum pil tiap hari, nggak perlu suntik, tapi IUD yang lama waktunya atau tubektomi dan vasektomi," terangnya.
Bagi mereka yang tidak mengingkan kehamilan ada pilihan-pilihan yang harus diambil. Ada yang memilih menerima kehamilannya dengan terpaksa, ada yang akhirnya berusaha lapang dada dan menerima kehamilan itu dengan ikhlas, namun ada pula yang memilih aborsi.
Soal aborsi, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) punya data menarik.
Berdasar studi PKBI di 12 kota dari tahun 2000-2011 menunjukkan 73-83 persen wanita yang ingin aborsi adalah wanita menikah karena kegagalan kontrasepsi.
"Aborsi pada remaja bahkan tidak sampai 20 persen," ujar Inne Silviane, Direktur Eksekutif PKBI Pusat, saat dihubungi detikHealth, beberapa waktu lalu.
Sementara itu berdasar penelitian Yayasan Ksehatan Perempuan (YKP) tahun 2002 di sejumlah klinik dan rumah sakit di 9 kota besar Indonesia menunjukkan dari 1.446 perempuan dengan kehamilan tidak diinginkan, sekitar 87,1 persen-nya berstatus menikah.
(/)










































