Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kependudukan Indonesia (SDKI) tahun 2007 didapatkan sebagian besar kehamilan tak diinginkan di kalangan peserta KB terjadi pada kehamilan anak ke-4 dan seterusnya, yakni sebesar 25 persen.
Hasil lain SDKI tahun 2007 mencatat terdapat 9,1 persen kehamilan yang tidak diinginkan atau terjadi pada hampir 9 juta perempuan. Kehamilan ini bisa terjadi pada remaja dan juga ibu-ibu yang sudah menikah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr Dwiana menjelaskan misalnya ada pasangan yang ingin memiliki anak laki-laki, tapi baru punya anak perempuan atau ada kepercayaan yang mengatakan banyak anak maka banyak rezeki.
"Si wanita sendiri sudah malas untuk hamil, tetapi kan pasangannya tidak ikut hamil, jadi yang lebih ngotot adalah pasangannya," ujar Dr Dwiana dari Departemen Obstetri dan Ginekoligi FKUI/RSCM.
Prof Dr dr Biran Affandi, SpOG selaku Ketua APCOC (Asia-Pasific Council on Contraception) mengungkapkan penyebab utama kehamilan tidak diinginkan ini adalah 'unmet need', artinya pasangan tidak mau hamil tapi memakai KB.
"Mungkin karena sudah berumur lebih dari 35 tahun dan merasa sudah tidak subur lagi, padahal kesuburan seorang perempuan akan berlangsung terus sampai menopause," ujar Prof Biran.
Prof Biran mengungkapkan range untuk usia pasangan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan dan tergolong 'unmet need' cukup luas yaitu dari usia 20-50 tahun.
Sementara itu Ari Goedadi, Direktur Kesehatan Reproduksi BKKBN menjelaskan penyebab dari kehamilan yang tidak diinginkan ini dikarenakan ada hambatan dalam akses informasi dan akses pelayanan.
"Karena tenaga di lapangan sangat berkurang jumlahnya sehingga untuk akses informasi sulit, sedang akses pelayanan misalnya transportasi menuju tempat pelayanan KB sulit," ujar Ari.
Ari menjelaskan daerah terpencil, tertinggal dan perbatasan misalnya di Maluku Utara, Papua, Papua Barat, angka kehamilan tidak diinginkannya tinggi karena akses yang sulit. Serta kehamilan tak diinginkan ini lebih banyak dari kalangan yang sudah menikah.
Karena itu untuk di daerah yang sulit memang diharapkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang seperti IUD (intrauterin device), implan, tubektomi dan vasektomi.
(/)










































