Berani Gugurkan Kehamilan Tak Diinginkan, Risikonya Bisa Berabe

Kehamilan Tidak Diinginkan

Berani Gugurkan Kehamilan Tak Diinginkan, Risikonya Bisa Berabe

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Rabu, 06 Feb 2013 13:34 WIB
Berani Gugurkan Kehamilan Tak Diinginkan, Risikonya Bisa Berabe
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Kehamilan adalah anugerah bagi pasangan suami istri. Namun ada kalanya anugerah itu malah dianggap sebagai musibah, sehingga malah berusaha dilenyapkan. Saat inilah pasangan yang putus asa lantas memilih membunuh sendiri jabang bayi dalam rahim ibunya, aborsi.

Indonesia tidak melegalkan aborsi, kecuali jika indikasi medis yang bisa membahayakan keselamatan ibu, janin memiliki cacat yang tak dapat diperbaiki, atau kehamilan akibat perkosaan. Wanita hamil yang tidak memenuhi kriteria di atas namun ngotot ingin aborsi harus menempuh jalan lain.

"Negara kita tidak melegalkan aborsi, jadi tentu klinik-klinik aborsi yang ada itu ilegal. Pada kasus kehamilan tak direncanakan di mana sebagian besar yang mengalami dari keluarga tak mampu tentu mencari klinik-klinik alternatif yang tidak jelas metodenya," kata dr Dwiana Ocviyanti, SpOG(K), dokter spesialis kandungan dari RSCM ketika dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (6/2/2013).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada klinik-klinik aborsi yang dikelola oleh dokter, walau ilegal, kemungkinan komplikasinya bisa jadi lebih kecil. Namun yang namanya ilegal, tentu tidak ada aturan hukum yang menjamin keselamatan pasien. Namun jelas biaya yang dikeluarkan tidak murah mengingat besarnya risiko yang dihadapi.

Wanita hamil yang memiliki keterbatasan ekonomi dan jauh dari klinik ilegal tentu memilih cara yang lebih mudah dan murah. Bisa dengan mengunjungi klinik-klinik alternatif, dukun pijat atau meminum ramuan-ramuan pelancar haid. Karena tanpa melalui uji coba ilmiah, metode semacam ini amat diragukan efektivitasnya.

"Sekarang ada di media ditemui beberapa kasus klinik pengobatan alternatif yang ternyata malah membahayakan nyawa pasien. Wanita hamil yang meminta bantuan ke klinik-klinik seperti ini tentu malah bisa berisiko," terang dr Dwiana.

Ketika terjadi komplikasi akibat aborsi tak aman, barulah pelakunya meminta pertolongan dokter. Saat itu kondisinya bisa jadi lebih parah dan membutuhkan penanganan intensif. Walaupun ada aborsi yang aman, dr Dwiana menganjurkan pasangan untuk merencanakan kehamilan.

Ada berbagai macam komplikasi yang bisa terjadi akibat aborsi yang tak aman, yaitu:
- Pendarahan hebat. Jika leher rahim robek atau terbuka lebar akan menimbukan pendarahan yang dapat berbahaya bagi keselamatan ibu. Terkadang dibutuhkan pembedahan untuk menghentikan pendarahan tersebut.
- Infeksi. Infeksi dapat disebabkan oleh alat medis tidak steril yang dimasukkan ke dalam rahim atau sisa janin yang tidak dibersihkan dengan benar.
- Adanya bagian dari janin yang tersisa di dalam rahim sehingga dapat menimbulkan perdarahan atau infeksi.
- Sepsis. Biasanya terjadi jika aborsi menyebabkan infeksi tubuh secara total yang kemungkinan terburuknya menyebabkan kematian.
- Kerusakan leher rahim. Kerusakan ini terjadi akibat leher rahim yang terpotong, robek atau rusak akibat alat-alat aborsi yang digunakan.
- Saat alat dimasukkan ke dalam rahim, ada kemungkinan alat menyebabkan kerusakan pada organ terdekat seperti usus atau kandung kemih.

(pah/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads