Bagaimana Pasutri Mencegah Kehamilan yang Belum Diinginkan?

Kehamilan Tidak Diinginkan

Bagaimana Pasutri Mencegah Kehamilan yang Belum Diinginkan?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Rabu, 06 Feb 2013 13:36 WIB
Bagaimana Pasutri Mencegah Kehamilan yang Belum Diinginkan?
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Tidak semua pasangan ingin punya anak, setidaknya bukan pada masa-masa tertentu misalnya sedang terikat kontrak kerja atau berada di puncak karir. Bagi yang belum ingin punya anak, butuh strategi yang matang agar tidak kebobolan.

Pada dasarnya, kontrasepsi apapun metodenya merupakan satu-satunya cara untuk merencanakan kehamilan. Meski demikian, ada banyak faktor yang ikut mempengaruhi keberhasilan suatu metode kontrasepsi. Selalu ada risiko kegagalan dan kehamilan tidak diinginkan.

Pengalaman 'kebobolan' juga pernah menimpa I Ketut Sukanata, Direktur Eksekutif PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Bali. Bersama istrinya, pria asli Bali ini pada mulanya hanya ingin punya 2 anak sesuai anjuran dari pemerintah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak kelahiran anak pertama, istru Ketut sempat menggunakan spiral dan sukses mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Alat kontrasepsi ini baru dilepas saat merencanakan kehamilan anak kedua. Ternyata, proses bongkar pasangnya tidak praktis dan menyakitkan.

Setelah kelahiran anak kedua, istri Ketut beralih ke pil KB. Meski tidak sampai kebobolan, namun banyaknya aktivitas dan upacara adat yang harus diikuti membuat Ketut dan istrinya khawatir tidak bisa disiplin menggunakan alat kontrasepsi jangka pendek ini.

Ketut bersama istri lalu mencoba KB suntik untuk 3 bulan. Lagi-lagi tidak cocok, efek sampingnya membuat istri Ketut mengalami menstruasi yang tidak teratur. Sebagai gantinya, istri Ketut menggantinya dengan KB suntik untuk 1 bulan. Kali ini, menstruasinya lebih teratur.

Namun sayang, kehamilan yang tidak direncanakan muncul pada masa peralihan dari KB suntik 3 bulan ke KB suntik 1 bulan. Tampaknya Ketut dan isrinya lengah dan mengabaikan anjuran untuk menggunakan kondom pada masa transisi saat berganti metode kontrasepsi.

"Akhirnya isri hamil anak ketiga. Lalu sejak itu, kami pilih pakai kondom saja. Sekarang anak ketiga usianya sudah hampir 12 tahun, dan saya masih tetap pakai kondom. Kalau kondom habis, kami tidur biasa, tidak berhubungan seks," kata Ketut saat dihubungi detikHealth, Rabu (5/2/2013).

Karena pada dasarnya sudah tidak menginginkan anak keempat, Ketut sempat berpikir untuk mengikuti kontrasepsi permanen seperti vasektomi. Namun pertimbangan dari keluarga besar yang masih menjunjung tinggi nilai adat membuatnya urung melaksanakan niatnya.

"Lagipula pakai kondom sejauh ini juga tidak ada masalah," kata Ketut mantap.

(up/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads