Kontrasepsi Ini Paling Sering Picu Kehamilan Tidak Diinginkan

Kehamilan Tidak Diinginkan

Kontrasepsi Ini Paling Sering Picu Kehamilan Tidak Diinginkan

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Rabu, 06 Feb 2013 16:05 WIB
Kontrasepsi Ini Paling Sering Picu Kehamilan Tidak Diinginkan
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Berbagai alat kontrasepsi bisa dimanfaatkan oleh pasangan suami istri untuk merencanakan kehamilan pada saat yang tepat. Namun metode atau alat kontrasepsi tertentu punya tingkat kegagalan lebih tinggi dibanding yang lain. Apa saja?

"Metode kontrasepsi yang paling sering gagal biasanya yang short term, jangka pendek seperti pil KB dan suntik," kata Ari Bumi, staf klinik PKBI (Perkumpulan keluarga Berencana Indonesia) saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Rabu (6/2/2013).

Metode-metode kontrasepsi jangka pendek menurut Bumi memiliki risiko kegagalan lebih besar karena harus disiplin dalam penerapannya. Pil KB misalnya, harus dikonsumsi setiap hari dan jika lupa maka risiko kehamilan di luar rencana akan meningkat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sama halnya dengan kontrasepsi jangka pendek, metode kontrasepsi alami yakni metode kalender juga memiliki tingkat kegagalan relatif lebih tinggi. Perkiraan masa subur seringkali meleset dan kehamilan di luar rencana bisa terjadi jika salah perhitungan.

Sementara itu, Bumi menilai bahwa kondom justru memiliki tingkat kegagalan yang rendah asalkan dipakai dengan benar. Kalaupun terjadi kegagalan, maka hal itu lebih terkait dengan teknis pemakaian. Misalnya beberapa orang baru memasang kondom saat menjelang ejakulasi sehingga kebobolan.

"Kondom jika digunakan secara konsisten, tingkat kegagalannya rendah. Sebenarnya tingkat kegagalan metode apapun tergantung pada yang menggunakan, kalau dilakukan dengan benar maka KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan) bisa dihindari," kata Bumi.

Berdasarkan pengalamannya di klinik PKBI, Bumi menyimpulkan bahwa KTD lebih jarang terjadi pada penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang.

"Katakanlah jika metode kontrasepsi short term risiko gagalnya 20-30 persen, long term cuma 10 persen. Datanya pastinya mungkin tidak seperti itu, tapi kira-kira demikian perbandingannya," tambah Bumi.

Survei Demografi dan Kependudukan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan, sebagian besar KTD di kalangan peserta KB terjadi pada kehamilan anak ke-4 dan seterusnya yakni 25 persen. Sebaliknya, hampir semua anak pertama merupakan kehamilan yang direncanakan yakni 93 persen.

Tanpa melihat urutan kelahiran, secara umum hampir semua yakni 80 persen kehamilan di kalangan peserta KB adalah kehamilan yang terencana dengan baik. Sebanyak 12 persen adalah kehamilan yang diinginkan, namun waktunya tidak tepat karena terlalu cepat.

(up/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads