Banyak perokok yang cuek, tetap setia dengan aktivitas ngebul meski tahu ada bahaya kesehatan yang mengancam. Bahkan beberapa perokok mengklaim banyak perokok yang panjang umur.
"Orang masih saja berpendapat jika merokok masih bisa umur panjang, ya benar tetapi semua itu 1 banding 100. Rata-rata pasien saya yang datang dan ternyata mengidap kanker pasti tidak lepas dari lingkungan berasap rokok. Kalau tidak perokok aktif ya pasif," jelas dr Hakim Sorimuda Pohan, SpOG.
Hal itu disampaikan dia saat menjadi narasumber di acara Round Table Discussion bersama dengan tema Menyatukan Suara Dokter dan Korban dalam Perjuangan Pengendalian Rokok di Indonesia, di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jl Tirtayasa Raya No 6 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Rabu (20/3/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Salah satu pasien saya datang dan akhirnya ketahuan terkena kanker leher rahim. Saya tdak panjang lebar langsung bertanya siapa yang meracuni ibu itu setiap hari. Ibu itu bingung, sehingga saya tanya apakah pasangannya merokok atau ia tinggal di lingkungan berasap rokok, biasanya anaknya akan menyahut menyalahkan ayahnya," tutur dokter berkacamata ini.
Saat ini upaya-upaya pengendalian terhadap rokok ditempat umum semakin digalakkan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk melindungi kesehatan masyarakat.
"50 Persen perokok akan mati akibat rokok, itu berarti 1:2 kesempatan hidupnya, apalagi yang merokok jangka panjang. Sedangkan kematian akibat russian roulette, di mana pistol diisi satu peluru dan diputar memiliki 1:6 kesempatan hidup. Mana lebih berbahaya?" ucap dr Hakim.
(/)











































