Masih banyak yang mempercayai hal-hal mistis sebagai penyebab orang mendadak step atau kejang-kejang. Ada yang menyebutnya kena sawan, kesurupan atau malah sedang dikerjai orang lewat ilmu santet. Bagaimana pandangan ilmu kedokteran?
"Epilepsi sering dianggap sebagai kesurupan, padahal bukan. Penyakit ini disebabkan oleh sinyal saraf yang kacau," kata dr Fitri Octaviana, SpS, Mpd.Ked, ketua Perhimpunan Penanggulangan Epilepsi Indonesia (PERPEI) saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis pada Kamis (28/3/2013).
Faktor kurangnya pengetahuan masyarakat tentang epilepsi menurut dr Fitri membuat mitos-mitos berbau gaib lebih dipercaya dibanding pendekatan medis. Bahkan masih banyak yang meyakini, orang epilepsi atau ayan tidak boleh didekati karena air liurnya bisa menularkan sawan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika informasi tentang epilepsi belum sebanyak sekarang, gejala penyakit ini memang menyeramkan sehingga lebih mudah untuk menghubungkannya dengan hal gaib. Akhirnya, makhluk halus dituding sebagai penyebab dengan memasuki tubuh pasien dan membuatnya kejang-kejang.
"Epilepsi itu ditandai dengan kejang atau seizure yang berulang, tapi gejalanya tak hanya kejang saja. Bisa juga pasien mengalami kejang, bengong atau mulutnya kecap-kecap. Kalau kejangnya berulang, perlu diperiksakan untuk mengetahui kemungkinan epilepsi," kata dr Fitri.
Soal kemungkinan kena santet, dr Fitri mengaku tidak banyak tahu dan tidak bisa memberikan penjelasan. Yang jelas dalam ilmu kedokteran, belum ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa ilmu santet adalah penyebab serangan epilepsi seperti yang diyakini sebagian masyarakat.
"Pengerian santet itu sendiri apa? Apakah membuat orang lain menderita? Kalau dalam kedokteran tidak ada yang seperti itu," kata dr Fitri.
(pah/up)










































