Rabu, 10 Apr 2013 17:30 WIB

Ulasan Khas Melahirkan Sehat

Pasca Melahirkan, Hati-hati dengan 'Baby Blues'

Erninta Afryani Sinulingga - detikHealth
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Buah hati yang sudah dinanti-nanti dan dikandung selama 9 bulan akhirnya lahir. Seharusnya ibu dan ayahnya merasa bahagia dengan kelahiran si kecil. Namun ada beberapa kasus di mana orang tua malah merasa sedih setelah punya momongan. Fenomena ini disebut baby blues.

"Ini lebih ke arah psikologis, biasanya sugesti ibunya saja. Kadang-kadang karena tidak siap. Ayahnya juga bisa terkena karena ketakutan tidak siap. Ini juga penyebabnya banyak bayi yang dibuang," kata Dr Frits Max Rumintjap, SpOG(K), MARS, dokter spesialis kandungan dari RS Ibu dan Anak Sentosa, Bogor seperti ditulis Rabu (10/4/2013).

Baby blues atau rasa sedih setelah melahirkan akan membuat ibu merasa terharu, mudah marah atau terlalu khawatir. Perasaan ini akan berlangsung beberapa hari. Tapi jika baru pertama kali menjadi ibu, bisa jadi gejalanya berlangsung hingga beberapa minggu.

Gangguan ini nampaknya cukup jamak dialami. Penelitian memperkirakan sekitar 80 persen ibu melahirkan mengalami baby blues setelah melahirkan dan sekitar 10 persennya berubah menjadi depresi pasca melahirkan atau postpartum depression.

Pada postpartum depression, ibu akan merasa putus asa, kehilangan nafsu makan dan tidur atau memiliki pemikiran yang dapat membahayakan diri dan bayinya. Ibu yang mengalami gangguan depresi ini sebaiknya meminta bantuan orang lain agar tidak merasa terlalu berat mengasuh bayi.

Selain ibu, ternyata ayah juga bisa mengalami gangguan serupa, walau persentasenya jauh lebih sedikit. Para ayah yang mengalami baby blues biasanya lebih khawatir mengenai perkawinan dan kehidupan barunya. Diduga sebabnya karena tidak terbiasa mengekspresikan emosi atau meminta bantuan.

Para ahli menduga penyebab baby blues pada ayah disebabkan pasangannya mengalami depresi. Laki-laki yang pasangannya mengalami depresi setelah melahirkan memiliki risiko 2,5 kali lebih tinggi tertular depresi dibandingkan laki-laki yang pasangannya tidak depresi.

"Makanya ada konsultasi pra nikah yang disediakan dokter, pasangan harus berkonsultasi pada dokter seperti yang disarankan BKKBN. Ini untuk mempersiapkan sebelum kawin dan melahirkan nantinya," pungkas dr Frits yang juga merupakan seorang prajurit TNI ini.

(pah/up)