Rabu, 24 Apr 2013 10:37 WIB

Ulasan Khas Detoks

Perlukah Suplemen untuk Lakukan Detoks?

Ajeng Anastasia Kinanti, Erninta Afryani Sinulingga - detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Topik Hangat Ulasan Khas Detoks
Jakarta - Detoks atau proses menetralisir racun dapat dilakukan secara alami atau pun dengan bantuan suplemen. Beberapa produk banyak menjadi pilihan dalam membantu proses ini. Tetapi tetap ada aturan di dalamnya.

Khasiat yang ditawarkan setiap suplemen berbeda tentunya. Tergantung pada kebutuhan dan juga biaya, karena suplemen-suplemen ini memiliki kisaran harga yang lumayan juga lho. Tapi, sebenarnya perlukah suplemen untuk melakukan detoks?

Menurut praktisi hidup sehat, dr Phaidon L Toruan, detoks alami memiliki keunggulan selain lebih sehat juga lebih mudah untuk memilih bahan makanannya. Suplemen untuk detoks terkadang tidak memiliki terminologi kedokteran yang jelas. Sehingga bila yang dikonsumsi adalah suplemen abal-abal dikhawatirkan malah berbahaya bagi kesehatan tubuh seseorang.

"Sebaiknya, sebelum memilih yakinkan diri anda untuk mencoba melakukan secara alami terlebih dahulu. Jika memang ingin yang suplemen, lebih baik konsumsi dalam jangka pendek saja," saran dr Phaidon.

Dalam mengonsumsi suplemen untuk detoks memang tidak bisa sembarangan. Dibutuhkan konsultasi khusus sebelum melakukan detoksifikasi jika memiliki penyakit tertentu. Seperti yang dipaparkan oleh dr Roy Indrasoemantri yang juga produk konsultan dari produk Smart Detox.

"Detoks itu dilakukan dengan puasa tentu kondisi fisik seseorang yang ingin melakukan detoks dengan suplemen tentu harus sehat. Oleh sebab itu, jika memiliki sakit atau berat badan berlebih yang harus ditangani khusus akan diberikan konsultasi terlebih dulu untuk menyesuaikannya," jelas dr Roy.

Ia mengungkapkan jika seseorang memiliki penyakit tertentu seperti maag, proses detoksifikasi tidak dapat langsung diterapkan. Dibutuhkan jangka waktu tertentu untuk melakukannya (adaptasi) dan selama puasa tetap harus makan, ditambah dengan konsumsi suplemen.

Walau demikian, tetap harus menghindari makanan seperti seafood, gorengan, dan tumis-tumisan. Dokter Roy juga menyarankan selain mengonsumsi suplemen harus tetap diimbangi dengan sayur atau buah dan prosesnya maksimal hanya 40 hari saja.

"Dengan puasa tubuh itu diistirahatkan, sama seperti di dalam islam. Kalau selama dia puasa dan tidak makan dengan gizi yang cukup akibatnya jadi kurang zat gizi akhirnya malah sakit," kata dr Roy.

Tak ketinggalan pula pendapat dari dr. Cindiawaty Pudjiadi, MARS, MS, SpGK dari RS Medistra. Ia berpendapat bahwa tak ada salahnya melakukan detoks atau diet detoks, asalkan tetap menjaga kandungan zat gizi yang dibutuhkan.

"Jadi boleh saja melakukan diet asal tetap menjaga agar makanan yang dikonsumsi mengandung zat-zat Gizi yang dibutuhkan. Yang sering salah dilakukan adalah diet yang hanya misalnya makan buah saja atau sayur saja, atau air kelapa saja, tanpa zat-zat gizi lainnya yang dibutuhkan tubuh," ujarnya.

Tubuh tetap memerlukan semua zat-zat gizi, bila hal ini dilakukan dalam jangka panjang tentu saja akan tidak baik bagi tubuh manusia dan menyebabkan terjadinya kurang Gizi. Dr Cindi pun mengatakan apabila tubuh kurang zat-zat gizi, selain akan memperlihatkan gejala kurang gizi, daya tahan tubuh juga menjadi turun sehingga mudah terkena berbagai penyakit.

(vit/vit)
Topik Hangat Ulasan Khas Detoks