"Nggak ada patokan. Karena itu bersifat habituasi jadi anak kecil juga bisa," kata Ratih Zulhaqi, psikolog dari Pusat Layanan Tumbuh Kembang Kancil saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis pada Rabu (3/7/2013).
Meski dimungkinkan, latah pada anak kecil dinilai lebih jarang ditemukan. Ratih menilai, anak-anak cenderung enjoy menjalani hidupnya sehingga tingkat kecemasannya tidak lebih tinggi dibanding orang dewasa yang mudah cemas dan tidak bisa menghandle pikirannya sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, dr Andri, SpKJ dari RS Omni Alam Sutra Jakarta mengatakan bahwa usia 40-50 tahun lebih sering mengalami latah. Sementara jika dilihat dari jenis kelaminnya, maka perempuan cenderung lebih rentan mengalami latah dibandingkan laki-laki.
"Ada juga yang muda, tetapi biasanya perempuan yang usianya 40-an tahun ke atas," kata psikiater yang juga mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana, Jakarta.
Mengenai peluang sembuhnya, Ratih menilai latah tidak membutuhkan terapi khusus. Ada kalanya gangguan ini bisa berhenti dengan sendirinya, tetapi dalam kondisi tertentu akan bertahan sangat lama terutama jika lingkungan tidak mendukung orang yang bersangkutan untuk berhenti latah.
"Kalau berhenti bisa kapan saja biasanya kalau sudah diterapi bisa berhenti, kalau berhenti sendiri agak susah apalagi kalau dia sudah jadi bahan bercandaan dan jadi sering diganggu," kata Ratih.
(up/vta)











































