Dalam perbincangan dengan detikcom dan ditulis pada Rabu (6/11/2013), pada tahun 2005, Epie mulai menggunakan insulin yang dikombinasikan dengan obat oral. Dosisnya sempat berganti-ganti lantaran dokter perlu mencari jenis insulin dan dosis yang tepat.
"Nah selama pakai insulin itu gula darah saya bagus, kalau cek gula darah puasa itu di bawah 100, sesudah makan gula darahnya paling 130 sampai 150, masih normallah. Saya juga periksa lab hba1c itu bagus hasilnya selalu di bawah 6,5. Batas normalnya kan dulu 6,5 cuma sekarang beda jadi batas normalnya 7 ya," papar Epie.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia jual ke saya satu ampul Rp 100 ribu, biasanya sih saya kalau beli insulin di apotek yang memang jelas gitu antara Rp 130 sampai Rp 150-an, kecuali kalau di rumah sakit bisa Rp 200-an ya," lanjut Epie.
Akhirnya Epie membeli insulin tersebut, apalagi ada beda harga lebih rendah Rp 30 ribu. Sebenarnya tujuan Epie beli insulin itu bukan sekadar ingin mendapat insulin berharga murah, tapi juga sekaligus ingin membantu temannya itu,
"Setelah itu saya pakai dengan dosis 16 unit seperti biasanya, besoknya saya cek gula darah kok tinggi. Yang puasa itu 200-an, setelah puasa lebih tinggi lagi. Terus saya laporan ke dokter saya via SMS, disuruh naikin dosisnya dua unit dua unit, per tiga hari saya cek gula dan tiap minggu saya laporan, sampai dosisnya waktu itu 28 unit," papar Epie.
Apa yang terjadi? Ternyata gula darahnya tak juga turun. Insulin itu terus dipakai Epie selama 3 bulan tanpa curiga. Pada saat dia cek hba1c hasilnya menunjukkan angka 9, padahal biasanya normal yakni di bawah tujuh.
"Sampai dokter bilang ini ada yang nggak beres, ya saya bingung karena memang nggak ada apa-apa, makan saya biasa, kegiatan dan obat saya juga kayak biasanya," imbuh pria berkacamata itu.
Hingga suatu hari Epie ke luar kota dan lupa membawa insulinnya, sehingga dia terpaksa beli di apotek. Di malam hari, Epie menyuntikkan insulin dengan dosis terakhir 28 unit. Nah, keesokan harinya ternyata Epie mengalami hipoglikemi alias gula darah yang turun sangat rendah.
"Terus saya coba lagi, kok hipo lagi besoknya. Saya lapor ke dokter, disuruh turunin unitnya. Pas saya pulang, saya pakai yang sisa, yang palsu itu tadi, gula saya enggak turun. Saya heran, kemarin pakai yang di apotek hipo, pakai ini malah naik," tutur Epie.
Kemudian Epie mencoba insulin yang dibelinya di apotek, ternyata gula darahnya berhasil turun. Dari situlah Epie menyimpulkan insulin yang dibeli dari kenalannya adalah insulin palsu. "Saya bawa ke dokter, dokter juga bingung kenapa saya bisa ketipu karena emang itu mirip banget kemasannya kayak kalau saya beli di apotik. Dokter sendiri juga mungkin akan sulit mengetahui itu insulin palsu," sambungnya.
Apakah tidak ada yang mencurigakan dari kemasan insulin tersebut? "Cuma, pas dikasih si anak itu (si penjual), memang kemasan cartridgenya sudah dipisah karena biasanya kan satu pack itu isinya lima, tapi disatukan gitu, nanti tinggal disobek. Bahkan dia membungkusnya itu pakai kotak polos yang ada label apotek dari rumah sakit swasta di Jakarta ya saya makin percaya dong. Saya sempat complain ke si anak itu tapi dia nggak mau ngaku itu insulin dapet dari mana dan dia enggak mau tanggung jawab," kisah Epie.
Iseng, Epie mencoba mencari tahu beda insulin yang diduga palsu dengan yang asli. Menurut Epie, insulin asli baunya seperti karbol. Sehingga saat diteteskan ke tangan dan digosok akan terasa bau karbol yang lama-lama akan menghilang. Sedangkan insulin palsu, saat ditetes belum ada baunya tapi lama-lama baunya malah menyengat, alias kebalikan dari yang asli.
"Supaya nggak ketipu belilah di apotek yang benar, apalagi kalau beli di kayak di grosiran yang besar dan harganya murah, itu mengerikan. Selama ini obat-obat dan insulin saya beli di apotek atau di instalasi farmasi di rumah sakit," kata Epie.
(vit/up)











































