"Saya belum menemukan yang palsu, kalau rusak pernah. Jadi insulin yang rusak itu meski sudah disuntikkan ke pasien diabetes tidak bisa menurunkan kadar gula darahnya. Jadi kalau sudah disuntik tidak turun, dikhawatirkan insulinnya rusak atau mungkin palsu seperti yang ditengarai," kata dr Indra dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (6/11/2013).
Menurut dr Indra, insulin bisa rusak karena paparan matahari atau sudah dibuka terlalu lama. Jadi jika insulin sudah dibuka selama 1,5 bulan, dikhawatirkan manfaatnya sudah tidak bisa dirasakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan Napza BPOM, Dra A Retno Tyas Utami, Apt, M.Epid mengatakan dirinya pernah menemukan adanya insulin palsu. Sayang, insulin palsu sulit diidentifikasi ciri-cirinya. "Insulin itu kan peka sekali pada panas, karena dia terdiri dari protein maka kalau kena panas gampang rusak. Makanya kalau beli insulin gitu kan ada es batunya. Disimpannya juga di kulkas, tapi bukan di freezer ya," kata Retno saat dihubungi detikHealth.
Efek menggunakan insulin yang rusa, lanjutnya,k gula darah justru malah naik atau tidak turun karena efek terapinya sudah tidak maksimal. "Untuk mengenali insulin palsu, itu sama dengan vaksin gitu ya jadi paling gampang ya lihat apakah di labelnya ada yang mencurigakan. Fisiknya sudah berubah, cairannya tidak bersatu atau bisa saja ada sedikit campuran air tapi itu juga sulit ya karena kalau dicampur air kan dia akan butek, tidak steril," papar Retno.
(vit/up)











































