"Bukannya tidak boleh, tapi sebaiknya memang dicari tahu dulu penyebab nyerinya apa," tandas dr M. Nurhadi Rahman, SpOG dari RSUP Dr Sardjito dan RS Jogja International Hospital Yogyakarta ketika dihubungi detikHealth dan ditulis Rabu (8/1/2014).
Dokter kandungan yang aktif menjawab persoalan pasiennya lewat akun Twitter @adirahmanOG dan Facebook adirahmanog itu pun menyarankan agar semua wanita yang terganggu dengan nyeri haidnya untuk memeriksakan dirinya ke dokter terlebih dulu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalah muncul ketika konon konsumsi obat dan jamu pereda nyeri haid dalam jangka panjang disinyalir dapat menyebabkan rahim menjadi kering. Namun menurut dr Frizar Irmansyah SpOG (K) dari Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta, rahim seorang wanita tak mungkin mengering kecuali pada wanita yang sudah memasuki masa menopause.
"Rahim itu tidak mungkin kering, mungkin yang dimaksud kering itu adalah ketika darah haid yang keluar sedikit. Darah haid itu sendiri tidak cepat beku karena punya kandungan pengencer darah. Sedangkan nyeri kan bisa terjadi karena darah haidnya terlalu banyak, pengencernya tidak cukup, atau darah jadi menggumpal-gumpal dan harus dipompa untuk melewati mulut rahim yang kecil," terangnya.
Alih-alih mengonsumsi obat dan jamu pereda nyeri haid, baiknya gangguan saat menstruasi ini diatasi dengan cara alami seperti perubahan pola makan, olahraga atau konsumsi buah yang mengandung vitamin B1, B2 dan/atau makanan yang mengandung kalsium, vitamin D, maupun magnesium.











































