Turunnya gairah bercinta pada pasangan suami istri (pasutri) dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Mulai dari kondisi tubuh yang tidak fit, stres, letih hingga permasalahan pribadi.
Selain alasan-alasan pribadi tersebut, kondisi lingkungan terkadang juga ikut berpengaruh terhadap gairah. Menariknya, berdasarkan pengamatan detikHealth selama bulan puasa ramadan kali ini, 4 dari 5 wanita yang ditemui mengakui bahwa suasana dan lingkungan bulan puasa berpengaruh terhadap menurunnya gairah seksual.
Ami (34), seorang pegawai swasta, mengaku bahwa gairah bercintanya dengan suami menurun lantaran terlalu letih. Harus bangun lebih pagi untuk masak dan menyiapkan makan sahur ditambah letih bekerja merupakan alasannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendapat Ami juga diamini oleh Yoan (31). Yoan memang tidak bekerja dan lebih banyak mengurus rumah dan anak-anak saja, namun gairah bercintanya juga mengalami penurunan selama bulan puasa. Menurutnya, bulan puasa membuatnya ingin lebih dekat kepada keluarga, namun dalam konteks non seksual.
"Anak aku kan dua, yang paling besar mau masuk SD, yang kecil udah ikut PAUD. Jadinya aku tercurah ke mereka, ya perhatian, ya tenaga. Bercinta sih masih sama suami, nggak ada penurunan frekuensi, tapi gairahnya nggak ada gitu," ungkapnya.
Akan tetapi bagi para suami, bercinta di bulan puasa nampaknya tetap bergairah saja. Seperti dikatakan oleh Jon (37), juga pegawai swasta. Menurutnya tidak ada perbedaan signifikan antara bulan puasa dengan bercinta di malam-malam lain seperti biasa.
"Biasa saja sih. Kalau masalah bergairah ya tetap bergairah. Lagian kan puasanya siangnya saja, malamnya sudah nggak. Jadi saya sih nggak pengaruh," urai Jon.
Kelelahan Faktor Utama
4 Dari 5 wanita yang ditemui mengatakan bahwa secara umum, lelah dan letih menjadi alasan utama berkurangnya gairah di bulan puasa. Seperti yang dituturkan oleh Tina (26), seorang pekerja kreatif.
"Aku kan kerjanya sampai malam, di bidang periklanan. Jadi kalau sudah pulang ke rumah itu pengennya tidur aja. Nggak ada pikiran lain. Capek soalnya tidur jam 10 jam 3 nanti bangun lagi," urai Tina.
Tak jauh berbeda, Violet (29) mengatakan bahwa kesibukan mengurus anak membuatnya menjadi cepat letih, terutama di bulan puasa yang mengharuskan seseorang tak makan dan minum selama hampir 14 jam.
"Anak gue baru satu tahun umurnya. Baru senang-senangnya bisa jalan, lari-lari kesana kemari. Apalagi bibinya (pengasuh-red) udah pulang kampung dari awal puasa. Repot deh, capek nggak sempet ngeladenin suami yang maunya banyak banget," ujar Violet.
Kedua istri tersebut memang sama-sama memiliki penurunan gairah, dan secara tidak langsung akan menolak jika suami meminta 'jatah' untuk bercinta. Akan tetapi jika tak diiringi dengan kata-kata dan bahasa tubuh yang baik, penolakan tersebut bisa saja membuat suami marah.
Yoan (31) yang sudah hampir 8 tahun menikah mengatakan bahwa dirinya mempunyai perasaan yang sama seperti kedua wanita di atas. Untuk itu, menurutnya lebih mudah untuk tetap bercinta menuruti suami daripada harus menolak dan akhirnya menjadi perdebatan dan bertengkar.
"Memang kurang bergairah ya, tapi mau diapain. Kalau aku sih ikut saja, kalau suami lagi mau main. Tapi ya jadinya aku nggak terlalu aktif, tapi asalkan suami nggak protes ya nggak apa-apa toh?" jabarnya.
Banyak hal yang harus dikompromikan untuk menjaga keharmonisan dengan pasangan selama bulan puasa. Pasalnya jika salah satu pihak tak berkenan untuk bercinta, tentunya kepuasan yang di dapat ketika bercinta pun akan terasa seperti kurang. Terlebih, puasa bukan sekedar menahan lapar tetapi juga segala bentuk hawa nafsu termasuk berahi.
Nah, untuk mengetahui lebih lengkap soal bagaimana kehidupan seksual di bulan puasa, simak terus ulasan khas detikHealth hari ini. Bagi pembaca yang ingin menceritakan pengalaman bercinta di bulan puasa, bisa juga dikirim ke redaksi@detikHealth.com.
(up/up)











































