Rabu, 19 Nov 2014 16:05 WIB

Kontroversi Rokok Elektrik

Apa Saja yang Perlu Diatur Soal Rokok Elektrik? Ini Harapan Dokter Paru

Firdaus Anwar - detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock) Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan mengeluarkan peraturan baru terkait rokok elektrik. Selama ini rokok elektrik beredar bebas, dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan meski banyak yang mengatakan bahayanya tak sebesar rokok tembakau.

Belum ada keterangan lebih detail dari BPOM terkait isi peraturan baru tersebut. Dokter paru berharap, semua aturan yang berlaku untuk rokok tembakau diterapkan juga pada rokok elektrik. Tidak perlu dibeda-bedakan.

"Saya kira rokok elektrik perlu diatur sama seperti dengan rokok biasa. Jadi batasan umur, penjualan, dan isinya perlu distandarisasi," ujar dr Frans Abednego Barus, SpP dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), seperti ditulis Rabu (19/11/2014).

"Izin pengeluaran rokok elektrik juga perlu diatur seperti cukai jadi terukur berapa batang yang terjual dan siapa saja pembelinya," tambah dr Frans.

Penjualan rokok elektrik saat ini dikatakan dr Frans sangat bebas dan mudah dapat ditemukan di toko-toko online. Ia bahkan mengatakan sudah menemukan beberapa siswa sekolah menengah pertama (SMP) yang menggunakan rokok elektrik.

"Harganya Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu, tapi masih bisa terjangkau sama uang jajan anak-anak. Saya menemukannya di sekolah-sekolah ternama," tambah dr Frans.

Meski kandungan rokok elektrik tidak seberbahaya seperti rokok biasa, dr Frans mengatakan kebiasaan merokok itu sendiri yang menjadi kekhawatiran. Nikotin yang juga terdapat pada rokok elektrik bisa menimbulkan kecanduan dan saat seseorang telah menggunakan rokok elektrik ada kemungkinan besar ia juga akan mengonsumsi rokok biasa.

"Menurut saya ini bisa membantu anak-anak lebih mudah jadi merokok biasa. Saat dia sudah merokok elektrik dan mencoba rokok biasa dia akan menemukan 'surganya'. Bincang-bincang dengan teman perokok, rokok biasa itu lebih nikmat dari rokok elektrik," pungkas dr Frans.

(up/vit)