"Terkait nutrisi bagi anak, peran ayah bisa mengganti kekosongan peran ibu. Semisal bagi tugas untuk menyuapi anak, tapi tetap untuk urusan makan tetap tugas sang ibu. Ayah perlu melakukan pendampingan saja," kata Anne Gracia, praktisi neurosains terapan, memberikan saran. Hal itu disampaikan dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (22/4/2015).
Menurut Anne, justru lebih penting meningkatkan pengetahuan ayah terkait nutrisi anak. Dia mencontohkan pentingnya pengetahuan ayah tentang makanan selingan untuk anak. Yang namanya snack atau makanan selingan, porsinya tentu tidak banyak. Sayangnya, masih ada ayah yang kurang paham soal ini, di mana ayah memberi snack dalam jumlah berlebihan pada anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait ayah yang memasak, itu bisa saja dilakukan meski umumnya yang memasak makanan keluarga adalah ibu. Tapi ini semua sesuai pilihan orang tua. Jika memang kegiatan memasak dilakukan untuk menunjukkan memasak adalah hobi ayah, maka ibu juga bisa menunjukkan hobi yang 'laki' banget.
Anne menambahkan kegiatan memasak atau menjahit masih dianggap sebagai 'pekerjaan perempuan' meskipun dewasa ini sudah banyak laki-laki yang menggeluti kegiatan tersebut. Jika kegiatan itu ditekuni menjadi profesi sang ayah, maka anak perlu diberi pengertian bahwa itu memang hal yang ditekuni dan menjadi profesi tetapi dengan tidak mengurangi nilai dari masing-masing peran.
"Lelaki saat masak tetap tonjolkan 'wah wajannya besar ya yang dipakai sehingga perlu kekuatan otot yang lebih', sedangkan perempuan lebih telaten ya jadi tetap ada ciri khas masing-masing gender di situ," saran Anne.
Dalam kegiatan memasak, tidak ada salahnya juga melibatkan sang anak. Sebab memasak bersama bisa membuat ayah dan anak menjadi lebih dekat, selain itu bisa menjadi salah satu kegiatan yang mendorong anak untuk berpikir strategi dalam menyelesaikan masalah. (Nurvita Indarini/Nurvita Indarini)











































