Rabu, 02 Sep 2015 08:03 WIB

Risiko Konsumsi Gula Berlebihan

Setiap Hari Konsumsi Gula, Sehatkah?

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Manis menjadi rasa favorit sebagian orang. Tak heran orang gemar menambahkan gula di minuman dan makanannya. Sebenarnya sehat tidak sih mengonsumsi gula setiap hari?

Gula sebenarnya memiliki manfaat untuk tubuh. Sebab gula merupakan sumber energi bagi sel tubuh, terutama sel darah merah dan sel sistem saraf.

"Gula juga bermanfaat untuk mencegah pemecahan protein untuk digunakan sebagai energi pada kondisi kekurangan asupan karbohidrat, mencegah keadaan ketosis yang terjadi karena pemecahan lemak akibat kekurangan asupan karbohidrat," jelas spesialis gizi klinik, dr Ida Gunawan, MS.SpGK, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (2/9/2015).

Di masyarakat dikenal ada berbagai macam gula. Ada gula pasir, gula merah dan gula batu. Gula pasir dibuat dari tebu, yang mana dalam proses pembuatannya perlu pemanasan sampai dengan 400 derajat Celcius.

Sedangkan gula batu adalah gula yang berbentuk seperti bongkahan batu. Proses pembuatannya hampir sama dengan proses pembuatan gula pasir. Namun suhu yang dibutuhkan untuk pemanasan tidak setinggi gula pasir.




Sementara gula merah yang sering disebut sebagai gula jawa dibuat dari bunga aren atau kelapa. Jika gula pasir dan gula batu banyak digunakan untuk dicampur dalam minuman atau makanan, gula merah lebih sering digunakan sebagai bumbu dapur.

Terkait dampak konsumsi gula terhadap kadar gula darah, dr Ida mengatakan perlu dilihat nilai glycemic index (GI) dan glycemic load (GL). GI merupakan angka yang menunjukkan potensi peningkatan gula darah dari karbohidrat yang tersedia pada suatu pangan. Sedangkan GL adalah sistem peringkat untuk kandungan karbohidrat dalam porsi makanan berdasarkan GI dan ukuran porsi.

Nah, GI untuk semua jenis gula sebenarnya hampir sama yakni sekitar 60-68. Mengutip Linus Pauling Institut, gula pasir memiliki GI 68, glukosa memiliki angka GI 96, fruktosa 22, gula merah 64 dan madu 60.

GI dikatakan rendah jika nilainya kurang dari atau sama dengan 55. Sedangkan bila GI di kisaran 56-69 termasuk dalam kategori sedang. Nah, jika GI di atas atau sama dengan 70 maka bisa dikatakan tinggi. Sedangkan untuk GL, GL rendah adalah bila kurang dari atau sama dengan 10, sedang jika angkanya 11-19, dan kategori tinggi bila di atas atau sama dengan 20.

"Jika dilihat dari data indeks glikemik, gula masih tergolong bahan makanan dengan GI sedang dan GL sedang juga karena berkisar antara 8-10," terang dr Ida.

Untuk memaniskan makanan atau minuman, dikenal pula pemanis tanpa kalori. Angka GI pada pemanis seperti ini adalah nol. Karena tidak menyebabkan lonjakan gula darah, maka pemanis tanpa kalori cocok untuk pasien diabetes yang pilihan asupan manisnya terbatas.


Dikutip dari biotek.bppt.go.id gula tebu kerap menjadi momok pasien diabetes lantaran kandungan glukosa dalam senyawa sukrosanya yang mudah dipecah oleh tubuh.
Sebenarnya air tebu mengandung saccharant, senyawa jenis polisakarida non-pati, yang berkhasiat sebagai antidiabetik. Sayangnya, senyawa polisakarida itu pecah saat proses pemanasan menjadi sukrosa, yang mana bisa menjadi pencetus diabetes.

Dijelaskan dr Ida, bahan makanan yang kaya akan karbohidrat jika diproses dengan pemanasan tinggi dan berulang-ulang akan membuat bahan tersebut menjadi partikel yang lebih halus. Partikel ini tentunya akan lebih cepat diserap oleh tubuh dan menjadikan GI-nya lebih tinggi.

"Makanan tinggi GI tentunya makin memaksa pankreas mengeluarkan lebih banyak insulin untuk memetabolisme karbohidrat tersebut. Akibatnya tentu saja kerja pankreas akan lebih dipacu," tutur dr Ida.

Karena itu, jika tidak mau membebani kerja pankreas dan berisiko terkena diabetes, ingat ya jangan mengonsumsi gula secara berlebihan. Pilihan lainnya adalah dengan menambahkan pemanis atau sweetener yang nol kalori dan ber-GI rendah sehingga lebih aman bagi gula darah.

(vit/rdn)