ADVERTISEMENT

Rabu, 04 Nov 2015 17:58 WIB

Anak Sakit karena Kangen

Kisah-kisah Anak 'Sakit Kangen' Saat Ditinggal Dinas Luar Kota Orang Tuanya

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: Thinkstock/Fuse
Jakarta - 'Sakit kangen' merupakan istilah umum yang sering disebut saat anak demam atau rewel lantaran terpisah dari ayah atau ibunya. Mungkin karena ayah atau ibunya harus dinas ke luar kota, terpaksa anak harus berjauhan dengan salah satu orang tuanya.

Mungkin karena tidak biasa jauh dari salah satu orang tua, bisa jadi anak jadi begitu sedih. Akibatnya enggan makan dan minum, sehingga rentan sakit. Karena itulah disebut 'sakit kangen'.

Ria, salah satu pembaca detikHealth, mengaku anaknya pernah mengalami masa-masa 'sakit kangen'. Suami Ria beberapa kali harus dinas ke luar negeri, sehingga terpaksa harus meninggalkan keluarga selama beberapa hari.

Sarah, demikian nama anak Ria, kala itu masih berusia dua tahun. Setiap kali ayahnya dinas keluar kota, pasti jadi rewel. Sarah mudah menangis dan merajuk. Saat tidur pun Sarah mengigau memanggil-manggil ayahnya. Kerap kali suhu badan Sarah meningkat.

"Nggak sampai ke dokter karena aku ada stok obat. Biasanya juga langsung telepon ke ayahnya," tutur Ria, warga Jakarta Selatan, menceritakan saat anaknya 'sakit kangen' kepada detikHealth dan ditulis pada Rabu (4/11/2015).

Baca juga: Saat Ortu Pergi Jauh, Lakukan Ini Biar Anak Tak Sakit karena Kangen

Setelah mendengar suara sang ayah, biasanya Sarah menjadi lebih tenang. Frekuensi mengingau memanggil-manggil ayahnya pun menjadi berkurang. Selain menelepon sang suami untuk membantu menenangkan Sarah, Ria biasanya sering-sering memberi pengertian kepada Sarah bahwa sang ayah sedang bekerja dan nanti saat pulang akan membawa oleh-oleh.

"Itu biasanya ampuh. Pas ayahnya pulang, udah sakitnya sembuh, ngingaunya juga hilang. aku sendiri juga aneh," papar Ria sembari mengatakan 'sakit kangen' Sarah tak lagi muncul setelah usianya di atas lima tahun.

Kisah 'sakit kangen' lainnya datang dari keluarga Ari di Jawa Tengah. Menurut Ari, anak sulungnya sering malas makan dan suhu badannya meningkat saat ditinggal ayahnya dinas ke luar kota.

"Itu biasanya terjadi kalau ayahnya berangkat ke luar kota nggak pamitan sama anak saya. Tapi kalau pamitan, ayahnya yang ngasih pengertian bahwa dia perginya nggak lama, biasanya nggak sakit," ucap Ari.

Sedangkan si kecil Alif (2,5) memang tidak sampai demam saat ditinggal ayahnya berhaji beberapa waktu lalu. Namun Alif sempat kehilangan nafsu makan sampai seminggu. Meskipun tidak pernah bilang kangen ayahnya, namun jelas benar rasa kangen itu membuat suasana hati Alif berubah.

"Hampir seminggu nafsu makan Alif menurun. Pernah seharian nggak makan nasi dan kelaparan di jam 3 pagi," kata ibunda Alif, Febrina, saat dihubungi terpisah.

Bahkan Febrina kerap memergoki Alif menatap lama ke arah teman-temannya yang dijemput dan dipeluk ayahnya. Yang lebih bikin hati Febrina sedih adalah ketika suatu kali Alif menyangka tukang ojek langganan yang datang ke rumah adalah ayahnya. Padahal jelas-jelas ayah Alif masih di Makkah.

Baca juga: Baju Bekas Orang Kesayangan Bisa Jadi 'Obat Kangen' Anak?

Foto: dok. pribadi

Untuk mengenyahkan kangen si buah hati, Febrina pun mencoba menelepon suaminya. Tapi Alif justru tidak mau bercakap dengan sang ayah. Lelaki kecil itu memilih berdiri di ujung kasur sambil melipat tangan. Alif mengatakan dirinya tidak kangen sang ayah. Namun kalimat itu disampaikannya sambil berurai air mata.

"Saya bilang sama Alif 'jangan marah sama papa. Karena papa sedang tugas, sedang ibadah. Nanti kalau pulang main lagi sama papa'," tutur perempuan berkerudung ini sembari menuturkan untuk mengalihkan sedih akibat kangen ayah, biasanya anak diajak main apa saja yang menantang.

Yeni (32), pembaca detikHealth lainnya, turut menceritakan masa 'sakit kangen' anaknya. Dituturkan Yeni, anaknya yang bernama Adan (5) badannya panas setelah seminggu ditinggal dinas ke luar kota ayahnya.

"Dia ngaku kangen sama papanya. Dikasih obat yang biasa dikasih dokter, sudah turun. Lagipula kan dia sudah cukup besar jadi udah bisa ngomong keluhannya apa," papar Yeni.

Nah, 'sakit kangen' sepertinya juga dialami anak kedua Yeni, Fathan (11 bulan). Si kecil badannya panas tinggi. Setiap kali mendengar suara ayahnya melalui telepon, Fathan selalu memanggil-manggil ayahnya. "Pa... Pa... Pa...," begitu ucap bayi Fathan.


Foto: dok.pribadi

"Tapi saya coba ngajak ngobrol anak-anak, termasuk yang paling kecil kalau papanya di Samarinda kerja. Kebetulan waktu itu dinasnya di Samarinda," sambung Yeni.

Yeni lalu mengajak anaknya berdoa untuk sang ayah agar tetap sehat sehingga bisa cepat pulang dan berkumpul bersama . Karena saat suaminya berada di Kalimantan, kabut asap tengah menyelimuti.

"Kadang kalau malam, pas anak saya tidur, saya selimutin pakai sarung yang dipakai bapaknya salat. Mungkin ngefek ya, karena ada baunya. Jadinya si Fathan nggak terlalu sering ngigau," imbuh Yeni.

Si sulung karena sudah bisa komunikasi, bisa menghilangkan kangen dengan sang ayah melalui pembicaraan di telepon. Tapi si bungsu yang masih bayi belum bisa mengekspresikan rasa kangennya, jadi mungkin masih tetap rewel. Lagipula panas badan si bayi tidak juga turun, sehingga Yeni pun membawa buah hatinya ke dokter.

"Siangnya ke dokter, malam papanya pulang. Alhamdulillah pas papanya pulang anak-anak langsung segar, beda. Kelihatan senang," kata Yeni mengunci perbincangan. (vit/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT