Rabu, 18 Nov 2015 15:02 WIB

Serba-serbi Narkolepsi

Tak Bisa Sembuh, Pasien Narkolepsi Bergantung pada Obat Pengendali Gejala

Radian Nyi Sukmasari, Martha Heriniazwi Dianthi - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Topik Hangat Serba-serbi Narkolepsi
Jakarta - dr Rimawati Tedjasukmana, SpS, RPSGT dari RS Medistra menegaskan narkolepsi tidak dapat disembuhkan. Pertama, karena penyebab kelainan ini sendiri dirasa belum jelas.

Namun diakui dr Rima, sebagian gejala yang diperlihatkan penyandang narkolepsi seringkali merugikan diri mereka, terutama rasa kantuk yang berlebihan di siang hari dan katapleksi. Beruntung keduanya dapat dikendalikan dengan obat-obatan.

"Dengan perawatan dan pengaturan pola tidur, serta mengkonsumi obat, pasien masih bisa hidup normal," katanya saat dihubungi detikHealth dan ditulis Rabu, (18/11/2015).

Obat-obatan apa saja yang dimaksud? Dikutip dari situs WebMD, secara umum obat yang dipakai untuk mengontrol rasa kantuk pada penyandang narkolepsi berupa amphetamine yang berfungsi sebagai stimulan. Sedangkan untuk mengurangi gejala katapleksi, halusinasi dan kelumpuhan tidurnya, pasien diberi obat antidepresan.

Ada juga obat lain yang diketahui dapat membantu mengatasi katapleksi atau lemah otot pada pasien narkolepsi. Namanya, Xyrem, dan obat ini diklaim dapat meningkatkan kualitas tidur si pasien, sehingga ketika terjaga, pasien tak terlalu mudah mengantuk.

Baca juga: Kurang Dikenal, Pasien Narkolepsi di Indonesia Tidak 'Terjamah'

Meski demikian, dr Roslan Yusni Al Imam Hasan SpBS dari Mayapada Hospital merasa pengobatan baru bisa diberikan jika memang pasien terganggu dengan kondisinya. "Kalau nggak sampai mengganggu apanya yang mau diobati," timpalnya.

Ditekankan dr Roslan atau lebih akrab disapa dr Ryu, sebelum diobati pun, pasien harus menjalani pemeriksaan secara menyeluruh, mulai dari fisik, riwayat medis hingga pemeriksaan faktor internal seperti hormonal dan neurotransmitter otak.

Metode pengobatan lain yang direkomendasikan untuk penyandang narkolepsi adalah terapi perilaku. Misalnya membuat jadwal tidur singkat berdurasi 10-15 menit selama beberapa kali dalam sehari untuk melawan rasa kantuk yang berlebihan; bisa juga dengan membuat jadwal tidur rutin.

Di situs lain dikatakan bagi sebagian pakar, konseling juga sangat dibutuhkan oleh penyandang narkolepsi mengingat kondisi mereka tidak dikenal secara luas, sehingga memicu perasaan terkucilkan, hingga depresi. Kadang di antara mereka ada yang sampai takut tidur.

Baca juga: Jangan Diremehkan, Ini Dampaknya Jika Narkolepsi Tidak Tertangani



(lll/vit)
Topik Hangat Serba-serbi Narkolepsi
News Feed