Pengabdian Gufron di Dunia Pendidikan Meski Tangannya Tak Sempurna

ADVERTISEMENT

Semangat dalam Keterbatasan

Pengabdian Gufron di Dunia Pendidikan Meski Tangannya Tak Sempurna

Martha HD - detikHealth
Jumat, 01 Jul 2016 11:33 WIB
Foto: Martha
Jakarta - Mengalami keterbatasan sejak lahir tak lantas membuat Gufroni Sakari (50) menjadi orang yang tidak percaya diri. Ia pun menunjukkan kemampuan dirinya dengan berbagai cara termasuk menjadi dosen di beberapa universitas swasta di Jakarta.

Pria yang akrab disapa Gufron ini merupakan praktisi bidang Hubungan Masyarakat dan Komunikasi (Humas) di salah satu televisi swasta. Ilmu yang dimilikinya ia bagikan kepada mahasiswa di beberapa universitas swasta.

"Saya ingin membagikan ilmu yang saya miliki, terlebih saya juga praktisi sehingga bisa membagikan ilmu serta pengalaman kerja yang dimiliki kepada mahasiswa saya," kata Gufron saat ditemui detikHealth baru-baru ini.

Baca juga: Surya Sahetapy Sampai Amerika Serikat Demi Memajukan Tunarungu

Meski memiliki salah satu tangan yang petumbuhannya tak sempurna, Gufron mengaku tidak memiliki kesulitan berarti dalam mengajar. Dahulu saat mengajar menggunakan papan tulis, ia memang sempat merasa kesulitan.

"Kendala paling jika harus menulis di papan tulis yang tinggi tetapi sekarang ngapain harus nulis di papan yang tinggi. Cukup dengan menulis saja di komputer, tulisan akan muncul dengan menggunakan proyektor," lanjutnya.



Sebagai dosen, Gufron juga tidak merasakan adanya perbedaan dengan dosen-dosen lainnya. Namun Gufron pernah mengalami kejadiaan unik saat mahasiswanya tidak mengenali sebagai dosen.

"Waktu itu saya mengajar pertama kali dan sudah datang di kelas tetapi mahaiswa saya belum pada masuk. Saat disuruh masuk, mereka bilang masih menunggu dosennya. Di situ saya bilang saya dosennya," cerita Gufron yang telah menjadi dosen lebih dari 15 tahun ini.

Baca juga: Kisah Aries, Mendorong Para Tunarungu Agar Berprestasi di Bidang Olahraga

Pria yang juga ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) memiliki harapan agar para penyandang disabilitas, terutama tunadaksa, mampu mengembangkan dirinya. Hambatan bagi pengembangan diri tidak selalu datang dari luar atau lingkungan, namun sering kali dari diri sendiri.

"Dengan mengatasinya itu kita bisa percaya diri. Ketika percaya diri, kita mampu menunjukkan kemampuan serta kreativitas sehigga orang lain juga bisa mengakuinya. Selain itu, jangan bosan untuk terus belajar untuk meningkatkan kemampuan dan memperbaiki diri supaya lebih siap untuk hidup di tengah masyarakat lain," pesan Gufron. (mrs/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT