Kamis, 28 Jul 2016 18:51 WIB

Hari Hepatitis Sedunia

Curhat Pasien Hepatitis C di Indonesia: Obat Mahal dan Peredaran Terbatas

Puti Aini Yasmin - detikHealth
Foto: thinkstock
Topik Hangat Hari Hepatitis Sedunia
Jakarta - Hepatitis C merupakan salah satu jenis penyakit hepatitis yang berbahaya. Selain karena risiko kanker hati, obat yang mahal dan terbatas membuat risiko kematian akibat hepatitis C meningkat.

Ayu Oktariani, relawan koalisi obat murah yang juga merupakan pasien hepatitis C sudah malang melintang memperjuangkan hadirnya obat hepatitis C versi generik di Indonesia. Sebabnya, terapi dengan obat versi paten harganya sangat mahal hingga mencapai ratusan juta rupiah.

"Penanganannya sudah cukup baik karena ada beberapa dokter yang membantu konsultasi saya. Hanya saja biaya yang berhubungan dengan hepatitis sangat mahal, kurang ramah, jadi kemungkinan besar orang-orang yang khawatir akan biaya jadi takut untuk berobat," tutur Ayu yang juga aktif di Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) kepada detikHealth, baru-baru ini.

Ayu juga menyoroti kurangnya perhatian terhadap penyakit hepatitis C. Ia menyebut saat ini hanya dokter di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya yang peka terhadap isu hepatitis C. Seperti diketahui, obat sofosbuvir versi generik saat ini memang hanya tersedia di rumah sakit besar seperti RS Cipto Mangunkusumo.

Baca juga: Mana yang Paling Menular: Hepatitis A, B atau C?

Hal senada juga dikatakan oleh Aditya Wardhana, salah seorang pasien hepatitis C lainnya. Pria yang akrab disapa Edo ini mengatakan kepekaan tenaga kesehatan, termasuk dokter, terhadap penyakit hepatitis C tergolong rendah.

Edo yang juga aktif di Indonesia AIDS Coalition (IAC) ini bahkan tahun lalu harus terbang ke India untuk mendapatkan obat sofosbuvir versi generik. Meski saat ini sofosbuvir versi generik sudah bisa didapat di Indonesia, ia berharap agar pemerintah bisa lebih memberi perhatian kepada pasien hepatitis C.

"Walaupun obat sudah mendapat izin dari Indonesia untuk beredar, untuk beberapa orang harga tersebut tergolong mahal jadi peran JKN sangat penting, harga test pack Hepatitis C juga mahal, dan tidak ada program atau subsidi untuk epatitis dari pemerintah," tegasnya.

Kurangnya sosialisasi dari pemerintah terhadap pengobatan hepatitis C yang murah dan terjangkau juga menjadi isu. Menurut Edo, sosialisasi tentang hepatitis C hanya bisa didapat melalui media massa dan gerakan komunitas.

"Pemerintah juga belum banyak mensosialisasikan bahwa ada obat yang efektif seperti sofosbuvir. Namun pasien hepatitis hanya mengetahui dari media, biasanya dari koalisi obat murah secara teratur melakukan konferensi agara pasien Hepatitis dapat mengetahui obat sofosbuvir karena pemerintah tidak menjalankan perannya," tutup Edo.

Baca juga: Begini Cara Mencegah Agar Hepatitis Tak Mudah Menular (mrs/vit)
Topik Hangat Hari Hepatitis Sedunia