Banyak orang yang sudah terbiasa mencuci tangan seadanya. Hanya menggunakan air, tanpa sabun. Mungkin tangan akan bersih dari kotoran tapi kuman belum tentu hilang. Beberapa penyakit yang umumnya disebabkan oleh kuman di tangan adalah diare dan influenza. Sedangkan yang paling rentan terserang penyakit tersebut adalah anak-anak.
Kuman-kuman penyebab penyakit yang menempel di tangan hanya bisa hilang sempurna dengan sabun. Hal ini didukung oleh penelitian Valerie Curtis dari London School of Hygiene & Tropical yang mengungkapkan fakta bahwa kebiasaan mencuci tangan pakai sabun mampu menekan angka kematian akibat diare sekitar 47%.
Kebiasaan mencuci tangan pakai sabun memang merupakan tindakan preventif yang paling sederhana. Menurut dr. Gracecielia, MKK, cuci tangan pakai sabun sangat baik dilakukan di 5 saat penting yaitu:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Mandi dengan sabun Lifebuoy
- Cuci tangan sebelum makan pagi
- Cuci tangan sebelum makan siang
- Cuci tangan sebelum makan malam
- Cuci tangan sesudah dari toilet
PBB menetapkan 15 Oktober sebagai Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia. PBB bekerjasama dengan organisasi pemerintah maupun pihak swasta dalam menjalankan kampanye global ini. Perilaku cuci tangan pakai sabun digalakkan sebagai upaya menurunkan tingkat kematian balita.

Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia ini sesuai dengan komitmen Indonesia dan Lifebuoy untuk menurunkan angka kesakitan anak dan kematian bayi di bawah usia 5 tahun. Sejak tahun 2011, Unilever secara konsisten mengedukasi pentingnya Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) melalui program Gerakan 21 Hari.
Edukasi melibatkan 50 rumah sakit, 15.430 sekolah dan organisasi PKK di 34 provinsi se-Indonesia. Pada 15 Oktober 2015, PT Unilever Indonesia Tbk. melalui brand Lifebuoy merayakan capaian 70 Juta Tangan Indonesia Sehat. Perayaan dilakukan dengan kegiatan cuci tangan massal yang melibatkan 1.000 murid SD dan ibu-ibu PKK di area Kantor Walikota Jakarta Barat.
“Hari Cuci Tangan Sedunia menjadi momentum tepat bagi Unilever untuk membuktikan keberhasilannya dalam mengedukasi pentingnya CTPS di bawah air mengalir untuk menjaga kesehatan,” ujar Eva Arisuci Rudjito – Head of Marketing Skin Cleansing and Body Care PT Unilever Indonesia Tbk.

Selain edukasi, Lifebuoy juga membangun infrastruktur sarana air bersih dan sanitasi di wilayah terpencil. Salah satunya adalah Desa Bitobe di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Inisiasi Lifebuoy itu menginspirasi sineas terkemuka – Nia Dinata untuk mendokumentasikan kehidupan sehari-hari warga Desa Bitobe.
“Sebagai insan film, saya ingin berkontribusi membangun Indonesia yang lebih sehat, tentunya dengan keterampilan yang saya miliki. Kesempatan itu terwujud melalui film “Bitobe”. Terima kasih kepada Lifebuoy yang memberikan saya kesempatan untuk ambil bagian dalam mewujudkan 70 Juta Tangan Indonesia Sehat,” kata Nia.
“Bitobe” mendokumentasikan keseharian warga desa Bitobe yang awalnya kekurangan air bersih dan akses fasilitas sanitasi terbatas. Warga desa Bitobe terpaksa memanfaatkan air sungai untuk minum, buang air dan mencuci. Keadaan ini sempat memicu diare dan infeksi saluran pernapasan pada anak berusia di bawah 5 tahun yang berujung kematian.
Setelah mendapat sarana air bersih dari Lifebuoy, seluruh warga desa Bitobe khususnya anak-anak jadi lebih ceria. Hidup mereka pun lebih sehat karena terbiasa cuci tangan pakai sabun di bawah air mengalir. Film “Bitobe” bisa disaksikan DI SINI











































