Selasa, 12 Mei 2020 00:00 WIB

Apakah Segel Plastik di Kemasan Mampu Jaga Minuman Tetap Aman?

Air Minum - detikHealth
adv aqua Foto: Shutterstock
Jakarta - Segel plastik jamak ditemui pada tutup botol produk minuman untuk menambah kemananan kemasan. Tapi, apakah benar segel plastik dapat melindungi produk dalam kemasan?

Sebenarnya, bagian terpenting untuk menjaga kerapatan pada tutup botol adalah cincin pengaman (tamper evident band) serta kunci pengaman berbentuk gerigi. Bagian tersebut berfungsi mengunci kerapatan tutup botol agar minuman tidak terpapar benda asing dari luar. Namun, banyak produk masih menggunakan segel plastik karena dirasa menambah jaminan rasa aman bagi konsumennya.

Menurut penemu cincin pengaman,Edwin M. Irish, bentuk cincin pengaman telah didesain sedemikian rupa untuk botol plastik agar dapat menjamin mutu dan keamanan produk sehingga aman dikonsumsi. Selama cincin pengaman tersebut belum terlepas atau terpisah dari tutup botol, maka dapat dipastikan produk tersebut belum pernah dibuka sebelumnya. Saat botol dibuka, akan muncul suara retakan sebagai tanda cincin pengaman terlepas dari tutup botol untuk pertama kalinya.

Pada dasarnya, setiap perusahaan mengutamakan keamanan konsumen. Hal ini juga diatur dalam peraturan No.27/2017 dan No.20/2019 tentang regulasi kemasan pangan yang dibuat oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Beberapa perusahaan juga menerapkan standar keamanan kemasan internasional, termasuk menghindari penggunaan polyvinyl chloride (PVC - jenis material yang biasanya digunakan untuk membuat segel plastik) karena dianggap berbahaya jika digunakan dalam kemasan makanan dan terjadi kontak langsung dengan manusia.

Menurut studi yang dilakukan oleh McKinsey, umumnya segel plastik terbuat dari PVC tipis yang mudah tercecer dan sulit didaur ulang. Akibatnya, bagian dari segel plastik menyebar dan menjadi sampah plastik yang berbahaya untuk lingkungan.Dampak tersebut bisa dihindari dengan meniadakan segel plastik sebagai "hiasan" di kemasan botol.

Pada tahun 2019 lalu, Pemerintah Thailand telah melarang penggunaan segel plastik pada kemasan botol. Larangan ini diumumkan bersamaan dengan pelarangan pemakaian kantong plastik sekali pakai dan plastik oxo-biodegradable yang dapat terurai karena bereaksi terhadap panas dan oksigen sehingga plastik pecah menjadi molekul kecil, kemudian diurai oleh mikroorganisme menjadi CO2, H2O, dan biomassa.

Plastik merupakan penemuan penting bagi industri, termasuk industri makanan dan minuman. Benda tersebut mudah diproduksi serta dapat dijadikan kemasan yang ringan dan tahan lama sehingga mempermudah proses distribusi ke konsumen hingga ke pelosok sekalipun.

Namun, penggunaan plastik telah menimbulkan permasalahan global. Pelaku industri mesti mencari solusi untuk menekan penggunaan plastik. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, diantaranya merancang ulang dan membuat inovasi desain kemasan yang mudah didaur ulang, meningkatkan pemakaian bahan daur ulang, hingga menanggalkan plastik untuk kemasan produk. Berdasarkan studi yang dilakukan Ellen McArthur Foundation, daur ulang plastik juga berdampak pada peluang meningkatkan keuntungan hingga 20 persen.

Pelaku industri air minum dalam kemasan dapatmelakukan langkah kecil dengan meniadakan segel plastik yang membungkus tutup botol. Di Indonesia ada beberapa perusahaan air minum dalam kemasan yang sudah meniadakan segel plastik dengan tujuan lebih bijak dalam penggunaan plastik di lini produksinya.

Sebagai gantinya, perusahaan yang telah menghapus penggunaan segel plastik, mencari alternatif sistem keamanan lain untuk jaminan keamanan tambahan bagi konsumen, di antaranya menambahkan kode ganda di tutup dan badan botol, kode QR, atau desain kunci unik di cincin pengaman untuk mencegah pemalsuan isi kemasan.

Kendati demikian, perusahaan dirasa masih perlu terus berinovasi, meninjau materi yang digunakan untuk kemasan produknya tanpa mengesampingkan keamanan konsumen. Tidak menutup kemungkinan cincin pengaman juga dapat berevolusi, tidak lagi terpisah dengan tutup botol, sehingga semakin mengurangi keberadaan plastik berukuran kecil yang mudah tercecer.

Konsumen juga diharapkan lebih cermat dan bertanggung jawab dalam memilih produk yang ramah lingkungan, agar dapat mendorong perusahaan-perusahaan berinovasi demi kepentingan bersama. (-/-)