Pasien ICU yang terkena infeksi di rumah sakit mengharuskannya tinggal lebih lama dan tentunya dengan biaya yang lebih besar. Pasien yang terkena infeksi melalui darah atau yang dikenal dengan nama sepsis lebih banyak berakhir dengan kematian.
Tapi peneliti lebih memberikan keprihatinan besar terhadap penggunaan antibiotik secara luas pada pasien yang tidak mengalami infeksi. Praktik ini telah terbukti menyebabkan resistensi antibiotik pada bakteri tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada penelitian ini Vincent dan tim melakukan survey terhadap 13.796 pasien ICU di 75 negara. Dan hasil yang didapatkan adalah 51 persen pasien ICU terkena infeksi dan 71 persen pasien menerima antibiotik baik sebagai pengobatan ataupun untuk mencegah infeksi. Sebagian besar pasien mengalami infeksi paru-paru, infeksi perut dan aliran darah. Bakteri yang paling umum ditemukan adalah Staphylococcus aureus, E.coli dan kelompok Pseudomonas.
Infeksi seperti sepsis yang terjadi di ICU adalah penyebab utama kematian pasien selain karena penyakit jantung. Dr Steven Opal dari Brown University di Rhode Island dan Dr Thierry Calandra dari Vaudois Hospital Center di Lausanne, Swiss mengungkapkan jenis bakteri gram negatif (lebih patogen sehingga membahayakan organisme inangnya) menjadi penyebab 63 persen kasus infeksi.
"Ini bukan keadaan yang baik, karena infeksi bakteri ini meningkat tapi terapi alternatif untuk pengobatannya cenderung tidak mengalami peningkatan," komentarnya. Penggunaan antibiotik yang tinggi pada pasien ICU bisa menyebabkan bakteri tersebut menjadi lebih resisten.
Diharapkan nantinya ada teknologi baru seperti vaksin atau imunoterapi untuk membantu mengatasi permasalahn infeksi ini. Tapi sebagai pencegahan awal infeksi sebaiknya ciptakan lingkungan perawatan ICU yang benar-benar bersih dan steril.
Saat ini infeksi yang terjadi di rumah sakit dan mendapat perhatian khusus dari WHO adalah infeksi nosokomial. Infeksi ini terjadi pada pasien selama di rumah sakit atau menggunakan fasilitas kesehatan lain. Penyakit ini tidak ditemukan saat pasien masuk rumah sakit.
Ancaman penularan infeksi nosokomial yang terjadi di rumah sakit kini menjadi perhatian serius banyak negara. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kejadian infeksi di institusi pelayanan kesehatan berkisar 3-21 persen. (ver/ir)











































