Berdasarkan jajak pendapat yang melibatkan 2.000 orang ditemukan hampir 20 persen pasangan menghabiskan waktu lebih dari 1 tahun untuk bisa memiliki anak. Terkadang masalah kesuburan ini mengganggu hubungan dan kehidupan seks keduanya.
Para ahli menyalahkan faktor perempuan yang menunda untuk hamil dan memiliki anak sebelumnya, serta epidemi dari obesitas sebagai 2 alasan yang paling mungkin menyebabkan peningkatan infertilitas (ketidaksuburan), seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (26/2/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu infeksi menular seksual seperti chlamydia saat ini jumlahnya juga meningkat, padahal infeksi ini terbukti mempengaruhi kesuburan bagi laki-laki dan perempuan, sehingga ada kemungkinan turut berkontribusi.
Sebagian besar partisipan menyadari bahwa gaya hidup bisa memiliki dampak terhadap kesuburan, khususnya efek negatif dari rokok dan alkohol. Namun hanya setengah peserta yang bersedia mengubah gaya hidupnya demi bisa hamil.
Para ahli mengatakan pasangan seharusnya tidak mengabaikan alarm yang ada yaitu sudah berjalan setahun tanpa ada hasil. Diungkapkan jika pasangan rutin berhubungan seks tapi tak juga hamil setelah setahun maka disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan seorang perempuan untuk hamil, tak hanya fisik tapi juga psikologis. Karena itu pikiran seperti stres akibat tak kunjung hamil justru bisa membuatnya berada di bawah tekanan dan mempengaruhi kehidupan seks.
Hasil lain yang didapatkan dalam survei ini adalah 28 persen berpikir untuk melakukan bayi tabung (In Vitro Fertilisation/IVF), 22 persen tekanan untuk hamil merusak kehidupan seks, 7 persen laki-laki memiliki masalah kesuburan, 11 persen perempuan mengalami masalah kesuburan dan 76 persen percaya bahwa rokok dan alkohol pengaruhi kesuburan.
(ver/)










































