Studi baru menemukan bahwa anak yang menderita gangguan pernapasan saat tidur atau sleep-disordered breathing (SDB) lebih cenderung mengidap ADHD atau hiperaktif dan masalah adaptasi hingga gangguan belajar.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep ini menggunakan data dari Tucson Children’s Assessment of Sleep Apnea Study (TuCASA), analisis prevalensi dan tingkat kejadian SDB serta dampak neurobehavioralnya pada anak-anak keturunan Kaukasian dan Hispanik berusia 6-11 tahun di AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
23 Anak dilaporkan mengalami sleep apnea ketika menjalani studi, 21 anak terus-menerus menderita sleep apnea sepanjang studi, dan 41 anak yang dari awal telah mengidap sleep apnea diketahui tak lagi menderita gangguan pernafasan saat tidur ketika peneliti melakukan follow-up lima tahun berikutnya.
Dari situ peneliti menyimpulkan 23 anak yang dilaporkan mengalami sleep apnea saat studi empat hingga lima kali lebih berisiko memiliki gangguan perilaku, sedangkan 21 anak yang terus-menerus menderita sleep apnea berisiko enam kali lebih besar.
Dibandingkan anak-anak yang tak pernah menderita SDB, dari pelaporan orangtua diketahui anak yang menderita sleep apnea lebih cenderung mengalami hiperaktif, masalah perhatian, komunikasi, kompetensi sosial dan sulit melakukan perawatan diri (self-care) serta gangguan perilaku.
Tak hanya itu, anak dengan sleep apnea terus-menerus juga dilaporkan tujuh kali lebih sering mengalami gangguan belajar dan tiga kali lebih mungkin memiliki nilai rata-rata yang rendah di sekolah.
"Studi ini memberikan sejumlah informasi yang berguna bagi para profesional medis terkait pilihan pengobatan anak-anak dengan SDB mengingat adanya risiko gangguan perilaku yang bisa saja menyertai si anak," terang ketua tim peneliti Michelle Perfect yang juga asisten profesor program psikologi di University of Arizona.
"Para guru di sekolah juga perlu mempertimbangkan kemungkinan SDB pada anak didiknya yang dapat berkontribusi terhadap munculnya hiperaktivitas, gangguan belajar, masalah perilaku dan emosi di kelas," pungkasnya seperti dilansir redorbit, Rabu (3/4/2013).
(/)











































