Dalam rangka memperingati hari autis sedunia, Dr Dwidjo Saputro, Sp.KJ menyatakan itu tidak benar. Ia menegaskan bahwa anak autis bukanlah bodoh apalagi gangguan mental.
"Anak autis tidak bodoh, hanya saja ia mengalami hambatan dalam perkembangan otaknya. Ini juga bukanlah gangguan mental. Penyebabnya juga bukan karena psikologis tetapi banyak faktor, salah satunya genetika atau penyimpangan kromosom. Akibatnya mereka mengalami keterlambatan perkembangan," jelas dr Dwidjo Saputro, Sp.KJ selaku ketua Asosiasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja (Akeswari).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr Dwidjo juga menambahkan bahwa 70 persen dari anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) memiliki IQ 20-70 saja, tetapi sisanya memiliki kognitif yang baik. Namun, keduanya sama-sama mengalami disabilitas sosial.
Ia juga mengungkapkan bahwa tidak semua anak ASD berbakat, itu semua tergantung pada orang tua yang mendidik dan mengasuhnya. Anak ASD harus mendapatkan dukungan penuh dari kedua orangtuanya untuk beradaptasi.
Dokter berpembawaan ramah ini mengatakan bahwa ASD memang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol dan dikembangkan. Dengan pola asuh serta perhatian yang lebih dari orang tua dapat membuat anak ASD mengetahui potensinya serta percaya diri walau autis.
"Mereka bisa percaya diri walau autis, faktor keluarga cukup menentukan," tutup dr Dwidjo.
Dalam seminar ini disuguhkan pula penampilan musik dari anak-anak dengan ASD. Beberapa di antara mereka ternyata pasien dr Dwidjo yang berhasil mengoptimalkan dirinya walau autis.
(up/up)











































