Psikolog anak dan keluarga dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani alias Nina membenarkan perlunya sikap tegas dari orang tua saat mendampingi anak. Namun caranya tidak dengan menakut-nakuti anak melalui sosok tertentu, baik ayah atau siapapun.
"Menurut saya tidak perlu ada yang ditakuti. Yang diperlukan justru sosok yang benar-benar disayangi. Asal bisa tegas, maka pada sosok itulah anak akan menurut," kata Nina kepada detikHealth, seperti ditulis pada Selasa (15/10/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sederhananya, anak yang terbiasa dimarahi cenderung kurang sensitif untuk memproses perkataan yang disampaikan dengan cara-cara yang lebih halus. Untuk bisa lebih tersampaikan, perkataan itu juga harus disampaikan dengan marah-marah karena otaknya lebih mudah memproses hal-hal yang demikian.
Lain halnya jika anak memiliki sosok yang sangat disayang, misalnya ibu. Saat si anak melakukan hal-hal yang tidak semestinya, sang ibu hanya perlu diam atau menunjukkan sikap berbeda sebagai tanda bahwa ia tidak suka. Tidak perlu marah, anak akan terlatih untuk tidak mengecewakan orang yang sangat dia sayang.
"Saya juga sudah buktikan di keluarga saya sendiri. Saya dan suami dekat sekali dengan anak-anak. Misalnya ada sesuatu yang salah, tinggal saya diamkan saja mereka sudah sensitif, tahu kalau bapak ibu tidak suka," kata Nina.
(up/)











































