Timbal atau timah hitam masih banyak dipakai sebagai campuran cat, termasuk di Indonesia. Organisasi kesehatan dunia (WHO) mengingatkan bahaya keracunan timbal, khususnya pada anak-anak karena bisa memicu gangguan kecerdasan.
Paparan timbal secara terus menerus diklaim turut bertanggung jawab atas 600.000 kasus baru gangguan kecerdasan pada anak, yang ditemukan setiap tahunnya. Secara umum, 99 persen anak yang terpapar timbal berasal dari negara berpendapatan rendah atau menengah.
Racun timbal bisa dilepaskan oleh cat-cat tua yang mulai mengelupas, juga pada berbagai benda interior yang terkontaminasi debu-debu timbal. Anak-anak paling rentan oleh paparan tersebut karena sering memasukkan benda-benda ke dalam mulutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diperkirakan, 143.000 kematian tiap tahun juga disebabkan oleh keracunan timbal dan cat adalah salah satu sumber pencemaran paling banyak ditemukan. Hingga saat ini, baru 30 negara yang sudah meninggalkan pemakaian timbal dalam cat dan ditargetkan pada 2015 bisa bertambah menjadi 70 negara.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Bali Fokus beberapa waktu lalu, Indonesia termasuk salah satu negara yang masih menggunakan cat bertimbal. Hasil pengujian terhadap 78 sampel cat dekoratif dari 28 perusahaan di Indonesia menunjukkan 77 persen masih mengandung timbal dengan kadar 90 ppm (part per million).
Kadar tertinggi yang ditemukan dalam penelitian tersebut adalah 116.000 ppm, sementara kadar rata-rata dari seluruh sampel adalah 17.300 ppm. Menurut Bali Fokus, kadar rata-rata seperti yang disebutkan adalah 200 kali lipat dari kadar yang disarankan yakni 90 ppm.
(up/)











































