Singkatnya, video ini mengajarkan bagaimana caranya agar anak-anak di China dapat menghindari orang-orang yang bermaksud melakukan pelecehan seksual terhadap mereka.
Dalam video yang masing-masing berdurasi satu menit itu sang kreator menjelaskan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi, misalnya 'dari mana bayi berasal', 'mengapa anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan' dan 'bagaimana cara anak-anak menghindari pelecehan' melalui sketsa kartun yang digambar langsung di atas kertas putih. Demikian dilansir Daily Mail, Jumat (8/11/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga video itu diluncurkan minggu lalu dan langsung menjadi hit di China. Bahkan videonya telah ditonton lebih dari satu juta kali. "Anak-anak kan cenderung penasaran tentang seks, jadi kami ingin menjelaskannya lewat kartun," terang Zhao kepada kantor berita resmi China, Xinhau.
Zhao pun berharap ilustrasi-ilustrasi yang ia gunakan dalam animasi tersebut akan membantu memberi ide bagi para orang tua agar dapat menjelaskan tentang topik tabu itu kepada anak-anak mereka, mungkin dengan cara mereka sendiri. Video ini juga bermaksud mengklarifikasi hal-hal tentang reproduksi yang cenderung salah kaprah tapi kadung tersebar luas di masyarakat China. Seperti halnya terkait asal-muasal bayi. Di China, jawaban umum untuk pertanyaan darimana bayi berasal adalah 'diambil dari kantong sampah'. Untuk itu dalam video dikatakan hal itu tidak benar dan diterangkan bahwa bayi berasal dari 'kombinasi antara sperma dan sel telur'.
Tentu saja dalam video ini Zhao menggambar sperma dan sel telur hingga bercampur dan terbentuklah seorang bayi.
Dalam video lain, Zhao menerangkan perbedaan antara alat kelamin pria dan wanita dengan menggambarkan keduanya sebagai colokan dan stop kontak. Dan proses terjadinya hubungan intim atau inseminasi digambarkan layaknya pemberian suntikan di rumah sakit.
Menanggapi keberadaan video ini, Liu Wenli, peneliti edukasi seks anak dari Beijing Normal University mengatakan bahwa popularitas ketiga kartun ini menunjukkan kurangnya informasi tentang kesehatan reproduksi di China. "Untuk itu internet jadi sarana efektif bagi edukasi seks, meski hal itu tak dapat menggantikan peranan orang tua dan sekolah," katanya.
(/up)










































