Mengatur pola makan demi menurunkan berat badan, sering kali memicu dilema bagi pengidap asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Tak sedikit pejuang diet yang bingung menentukan strategi terbaik. Apakah harus memangkas porsi makan atau fokus memotong kalori harian?
Menjawab itu, spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, mengatakan bahwa menyusun diet bagi pengidap GERD tergolong 'tricky'. Kunci utama agar asam lambung tidak kumat saat menurunkan berat badan adalah mengatur frekuensi makan, dan jeli memilih jenis bahan pangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang agak-agak tricky ya antara porsi dan kalori. Kalau punya GERD itu sebenarnya lebih ke kita frekuensinya juga dibenerin," kata dr Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (22/10/2026).
"Jadi misalnya kayak makan sedikit-sedikit tapi sering, jadi sehari bisa enam kali makan, tapi sedikit-sedikit porsinya. Supaya ditotalin nanti kebutuhan kalorinya itu sudah sesuai dengan kebutuhanmu," lanjutnya.
dr Yaze mengingatkan bahwa sekadar memotong porsi makan tidak otomatis membuat asupan kalori berkurang. Pasalnya, makanan dalam porsi kecil belum tentu memiliki jumlah kalori yang sedikit.
"Terus kalau soal porsi dan kalori, kalau misalnya porsinya kecil itu belum tentu kalorinya kecil. Misalnya kayak anggur, tiga butir anggur itu kelihatannya kayaknya kecil, nggak bikin kenyang, tapi ternyata kalorinya lumayan besar," terangnya.
Pahami Beda Densitas Kalori Makanan
Demi menyiasati risiko salah kaprah, dr Yaze mengimbau untuk memahami perbedaan densitas kalori dari setiap jenis makanan. Sebagai contoh, sayuran dalam porsi satu mangkuk besar terlihat sangat banyak, padahal kalorinya jauh lebih kecil ketimbang nasi putih.
Hal itu juga berlaku pada sumber karbohidrat seperti nasi dan kentang. Meski sama-sama ditimbang seberat 100 gram, kandungan kalori nasi putih bisa menyentuh 175 kalori, sedangkan kentang hanya berkisar antara 85 hingga 100 kalori.
"Jadi nggak bisa kita bilang cut porsi, tapi ternyata kalorinya malah tinggi banget nih. Harus balance dua-duanya, harus tau juga mana yang kalorinya terlalu besar, mana yang ternyata kalorinya kecil," tutupnya.
Simak Video "Video: Diet Khusus Atlet Bisa Ditiru Warga Biasa?"
[Gambas:Video 20detik] (sao/up)
