Risiko Mematikan Menghantui Remaja yang Hamil dan Melahirkan

Risiko Mematikan Menghantui Remaja yang Hamil dan Melahirkan

Dhanar Widyanto - detikHealth
Jumat, 08 Nov 2013 17:08 WIB
Risiko Mematikan Menghantui Remaja yang Hamil dan Melahirkan
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Setiap hari 20 ribu perempuan di bawah usia 18 tahun yang tinggal di negara berkembang melahirkan. Hal ini patut menjadi sorotan lantaran risikonya yang besar. Karena itu kepada para remaja yang kebanyakan masih duduk di bangku sekolah, diimbau untuk tidak hamil dan melahirkan terlebih dahulu hingga usianya matang.

Kerap kali kehamilan di usia dini merupakan kehamilan yang tidak diinginkan. Akibat kehamilan di usia dini, banyak remaja putri yang akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Karena itu peluang mereka untuk mendapat pekerjaan yang layak pun menjadi berkurang, dan bisa jadi mereka dikucilkan di masyarakat.

Risiko yang paling parah adalah kematian ibu karena alat reproduksi yang belum sempurna. Oleh karena itu, untuk menghidari kehamilan di usia dini, Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mempunyai program untuk memberikan pendidikan seputar bahaya kehamilan usia dini mulai dari tingkat Sekolah Menangah Pertama (SMP).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita harus membantu mereka mendapat pendidikan yang baik dan cukup, sebab ini salah satu cara paling efektif untuk menunda pernikahan dan kehamilan hingga dewasa," tutur Dr Wendy Hartanto selaku Deputi Bidang Kependudukan BKKBN dalam peluncuran laporan State World of Populations (SWOP) di Hotel Royal Ambarukmo, Yogyakarta, Jumat (8/11/2013).

Meningkatnya tingkat pendidikan dapat membuat remaja lebih jarang mengalami kehamilan di usia muda. Selain itu, pendidikan juga menurunkan tingkat pernikahan remaja sehingga menunda kelahiran usia muda yang pada akhirnya mengarah pada kelahiran yang sehat.

Untuk menangani kahamilan yang tidak diinginkan di kalangan remaja atau usia dini perlu kerjasama dan pendekatan yang menyeluruh. Masa remaja tidak seharusnya terganggu oleh kehamilan. Badan PBB untuk Kependudukan (UNFPA) bekerjasama dengan berbagai pemerintah daerah untuk menciptakan masa peralihan remaja menuju kehidupan dewasa yang aman dan sehat. Laporan SWOP mencermikan temuan dan upaya UNFPA beserta para mitra untuk mengatasi masalah kehamilan remaja yang tidak diinginkan.

Sementara itu Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta siap membantu menanggulangi permasalahan kehamilan remaja di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. "Pemerintah Yogyakarta merasa terhormat atas pemilihan Yogyakarta sebagai kota untuk melangsungkan penerbitan laporan SWOP 2013 di Indonesia," tutur Sri Hartati selaku perwakilan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam acara yang sama.

"Namun ini juga berarti bahwa kita harus siap menjadi garda terdepan dalam menanggulangi permasalahan kehamilan remaja di Indonesia, khususnya di Yogyakarta," tambahnya.

(/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads