Pasca Operasi Tumor Otak, Anak Ini Jadi Ingin Makan Terus Menerus

Pasca Operasi Tumor Otak, Anak Ini Jadi Ingin Makan Terus Menerus

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Jumat, 03 Jan 2014 16:31 WIB
Pasca Operasi Tumor Otak, Anak Ini Jadi Ingin Makan Terus Menerus
Alexis Shapiro (Foto: gofundme.com)
Texas - Setelah menjalani operasi tumor otak pada tahun 2011, gadis cilik bernama Alexis Shapiro ini jadi hobi makan. Bahkan, saat ini, di usia 12 tahun ia mengalami obesitas karena bobotnya mencapai 63 Kg.

Alexis didiagnosa mengalami kondisi langka hypothalamic obesity yang membuatnya selalu merasa lapar meskipun ia sudah melahap banyak makanan. Hypothalamic obesity disebabkan kerusakan kelenjar pituitari di daerah hipotalamus.

Sehingga, bagian otak tidak bisa mengirimkan sinyal jika perut sudah kenyang. Akibatnya, Alexis selalu merasa lapar karena nafsu makannya terus bertambah dan sebaliknya energi Alexis malah menurun. Dua tahun lalu, bobot bocah ini masih normal yakni 23 Kg, demikian dikutip dari ABC News, Jumat (3/1/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini sangat memilukan. Alexis tidak bisa lagi bermain dengan teman dan saudaranya, dia harus sekolah di rumah karena energinya cepat habis dan sering diejek temannya. Adrenalinnya tidak bekerja dengan baik sehingga saat berjalan ia sering merasa melayang dan harus tidur siang setiap hari," papar ibu Alexis, Jennifer Shapiro.

Oleh karena itu, Jennifer berusaha melakukan penggalangan dana untuk perawatan medis putrinya. Saat ini, ia juga sudah meminta bantuan dr Thomas Inge, profesor bedah anak di Cincinnati Children's Hospital Medical Center, Ohio. Menurut Inge, pilihan terbaik bagi anak dengan kondisi langka ini yaitu menjalani operasi bypass lambung. Ia menjelaskan kondisi ini sangat menyiksa anak-anak karena meskipun orang tua sudah membatasi makanan yang diasup, bobot anak tetap bertambah.

"Kerusakan pada hipotalamus bisa menyebabkan gangguan paten pada metabolisme. Meski area ini hanya sebesar butir beras, keadaan yang rusak membuat otak mendapat sinyal lapar tambahan sebagai akibat usus yang salah tafsir sehingga orang ingin makan lebih banyak," papar Inge.

Lebih lanjut, Inge menjelaskan ketika suatu hari orang makan berlebihan, di hari berikutnya ia bisa makan lebih sedikit dan aktif agar tubuhnya seimbang. Tapi hal ini tak berlaku bagi anak dengan obesitas hipotalamus karena sistem energi yang dikeluarkan tidak sinkron.

"Memang belum ada cukup penelitian yang membahas bagaimana bypass lambung bisa bekerja pada orang dengan kondisi seperti ini. Tapi setidaknya bypass lambung bisa mengelabui otak bahwa sinyal lapar tidak ada," pungkas Inge.

(rdn/vta)

Berita Terkait