"Remaja, khususnya remaja awal itu egonya besar. Emosinya juga labil, mudah terpengaruh peer group," kata dr Lanny Christine Gultom, SpA, ditemui usai sidang promosi untuk meraih gelar doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Pengaruh peer group atau kelompok sebaya, menurut dr Lanny paling memberikan pengaruh terhadap gaya hidup tidak sehat. Bagi remaja dengan masalah obesitas, kondisi ini membuatnya tidak disiplin menjalankan diet dan aktivitas fisik yang terprogram untuk mengatasi masalahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari 14 remaja yang drop out alias tidak menyelesaikan program dalam penelitian tersebut, 8 remaja mengaku jenuh melakukan latihan fisik dan 6 remaja tidak menyukai dietnya. Diet yang digunakan adalah National Cholesterol Education Program (NCEP) Step 2.
Pada anak dan remaja, obesitas atau kegemukan adalah faktor risiko dislipidemia. Kondisi ini menyebabkan metabolisme lipid atau lemak terganggu, sehingga kadar kolesterol jahat atau LDL (Low Density Lipoprotein) meningkat.
Peningkatan kadar kolesterol jahat berhubungan juga dengan penebalan pembuluh darah. Bila penebalan itu terjadi di arteri karotis yang terletak di leher, maka risiko terburuknya adalah stroke di usia muda.
(up/)











































