Risiko Ini Bisa Dialami Anak yang Terlalu Sering Mimpi Buruk

Risiko Ini Bisa Dialami Anak yang Terlalu Sering Mimpi Buruk

- detikHealth
Senin, 10 Mar 2014 19:01 WIB
Risiko Ini Bisa Dialami Anak yang Terlalu Sering Mimpi Buruk
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Mimpi buruk tidak hanya dialami oleh orang dewasa, melainkan juga oleh anak-anak. Namun jika anak Anda terlalu sering mengalami mimpi buruk, mungkin sebaiknya Anda harus waspada. Karena baru-baru ini sebuah penelitian menemukan bahwa mimpi buruk yang terlalu sering dialami anak-anak akan menambah risiko psikosis pada anak tersebut.

Seperti dikutip dari Medical News Today, Senin (10/3/2014), penelitian di Univesitas Warwick, Inggris, mengungkapkan penemuan mereka yang berkaitan dengan masalah yang dialami saat tidur. Para peneliti melakukan penelitian terhadap frekuensi mimpi buruk yang dialami oleh anak-anak, di mana biasanya frekuensi tersebut akan berkurang seiring pertumbuhan mereka ke masa remaja nantinya.

"Tercatat 3 dari 4 anak mengalami mimpi buruk di usia muda," tutur salah satu peneliti Prof Dieter Wolke.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam penelitan ini, para peneliti melihat seberapa sering frekuensi mimpi buruk yang dialami oleh 6.700 anak di Inggris Raya. Usia anak-anak yang berpartisipasi berada diantara usia 2 hingga 9 tahun, di mana para peneliti akan melihat perkembangan berikutnya pada usia mereka telah 12 tahun. Hasilnya didapat bahwa mimpi buruk yang mereka alami semasa anak-anak berisiko psikosis. Dalam penelitian ini, dilaporkan bahwa anak-anak dengan usia 2 hingga 9 tahun yang memiliki mimpi buruk dalam satu periode memiliki risiko peningkatan psikosis 16 persen di masa remaja. Sedangkan untuk anak-anak yang memiliki mimpi buruk lebih dari tiga periode, tercatat risiko peningkatannya sebesar 56 persen.

Setelah anak-anak itu berusia 12 tahun, para peneliti menanyakan apakah mereka pernah mempunyai mimpi buruk, teror malam, tidur sambil berjalan, delusi, halusinasi, dan gangguan berpikir dalam 6 bulan terakhir, sekitar seperempat dari mereka mengaku bahwa mereka mengalami itu semua.

Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak sering mimpi buruk pada usia 12 berisiko 3,5 kali lebih mungkin untuk menderita psikosis, seperti halusinasi dan delusi pada awal masa remaja. Sedangkan jika mereka merasa mengalami teror malam, maka mereka berisiko 2 kali lebih mungkin menderita psikosis.

Walaupun temuan dari studi ini tampak mengkhawatirkan, para peneliti ingin mendorong para orang tua untuk menginterpretasikan hasil penelitian ini dengan hati-hati.

"Kami tentu tidak ingin orang tua salah menginterpretasikan penemuan ini. Namun tetap diperlukan kewaspadaan terkait hal ini," ujar Prof Wolke.

Kendati demikian, gangguan tidur lain, seperti memiliki masalah dengan tidur atau sering terbangun pada malam hari, disebut tidak memiliki hubungan dengan risiko terserang psikosis. Psikosis sendiri merupakan gangguan yang menyebabkan ketidakmampuan seseorang menilai realita dengan fantasi dirinya.

(vta/vta)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads