Seperti dikutip dari Medical News Today, Senin (10/3/2014), penelitian di Univesitas Warwick, Inggris, mengungkapkan penemuan mereka yang berkaitan dengan masalah yang dialami saat tidur. Para peneliti melakukan penelitian terhadap frekuensi mimpi buruk yang dialami oleh anak-anak, di mana biasanya frekuensi tersebut akan berkurang seiring pertumbuhan mereka ke masa remaja nantinya.
"Tercatat 3 dari 4 anak mengalami mimpi buruk di usia muda," tutur salah satu peneliti Prof Dieter Wolke.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah anak-anak itu berusia 12 tahun, para peneliti menanyakan apakah mereka pernah mempunyai mimpi buruk, teror malam, tidur sambil berjalan, delusi, halusinasi, dan gangguan berpikir dalam 6 bulan terakhir, sekitar seperempat dari mereka mengaku bahwa mereka mengalami itu semua.
Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak sering mimpi buruk pada usia 12 berisiko 3,5 kali lebih mungkin untuk menderita psikosis, seperti halusinasi dan delusi pada awal masa remaja. Sedangkan jika mereka merasa mengalami teror malam, maka mereka berisiko 2 kali lebih mungkin menderita psikosis.
Walaupun temuan dari studi ini tampak mengkhawatirkan, para peneliti ingin mendorong para orang tua untuk menginterpretasikan hasil penelitian ini dengan hati-hati.
"Kami tentu tidak ingin orang tua salah menginterpretasikan penemuan ini. Namun tetap diperlukan kewaspadaan terkait hal ini," ujar Prof Wolke.
Kendati demikian, gangguan tidur lain, seperti memiliki masalah dengan tidur atau sering terbangun pada malam hari, disebut tidak memiliki hubungan dengan risiko terserang psikosis. Psikosis sendiri merupakan gangguan yang menyebabkan ketidakmampuan seseorang menilai realita dengan fantasi dirinya.
(vta/vta)










































