Ini Pelajaran Kasus Pelecehan Seks pada Bocah TK Internasional di Jaksel

Ini Pelajaran Kasus Pelecehan Seks pada Bocah TK Internasional di Jaksel

- detikHealth
Selasa, 15 Apr 2014 13:31 WIB
Ini Pelajaran Kasus Pelecehan Seks pada Bocah TK Internasional di Jaksel
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Anak sengaja disekolahkan di sekolah yang dianggap berkualitas baik untuk tumbuh sebagai pribadi yang baik pula. Tapi siapa sangka ada oknum bejat yang menyusup di sekolah dan melakukan perbuatan asusila, seperti yang dialami bocah 5 tahun yang bersekolah di TK internasional di bilangan Jakarta Selatan.

Lantas pelajaran apa yang bisa diambil dari kasus ini? Menurut psikolog anak dan remaja, Efnie Indrianie, MPSi, prinsip kehati-hatian harus tetap diutamakan. Saat anak berada di sekolah, tentu anak berada di luar kendali orang tua. Sebab orang tua sudah menyerahkan kepercayaan pada pihak sekolah selama jam sekolah.

"Ini perlu jadi perhatian pihak sekolah atau badan usaha. Sebelum merekrut pegawai, mau itu tukang kebun atau petugas kebersihan, perlu dilakukan pemeriksaan fungsi otak secara lengkap untuk mendeteksi kemungkinan melakukan kriminalitas," kata Efnie dalam perbincangan dengan detikHealth pada Selasa (14/4/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Efnie mengakui pemeriksaan fungsi otak secara lengkap memang cukup mahal, namun tidak ada salahnya untuk dilakukan demi keamanan para peserta didik di masa mendatang. Setidaknya pihak sekolah atau lembaga usaha melakukan skrining kepribadian, yang menurut Efnie bisa lebih murah namun bisa cukup mengambarkan pribadi pegawai.

"Bisa juga didampingi guru kalau mau ke WC. Pendampingan yang dilakukan guru memang penting. Tapi yang paling penting adalah orang-orang yang ada di sekolah itu sebaiknya orang-orang yang memang terpercaya, sehingga semua yang disekolah layak dan aman bagi anak," sambung Efnie.

Efnie sendiri pernah mendampingi anak yang memiliki pengalaman dengan pelecehan seksual. Menurut dia, anak tersebut butuh waktu lama untuk bangkit lagi. Bayangkan, anak tersebut harus memupuk rasa percaya dirinya hingga 5 tahun.

"Jelas anak yang menjadi korban ini butuh support system yang baik. Jadi teman, kerabat, dan terutam keluarga membantu anak mengembalikan rasa percaya dirinya agar nilai positifnya bisa kembali," ucapnya.

Terkait sikap anak yang kemudian berubah selepas menjadi korban pelecehan, seperti misalnya tidak mau mengenakan celana karena merasa kesakitan, tidak mau jauh dari ibunya, dan enggan kembali ke sekolahnya adalah sikap yang lumrah. "Salah satu cara untuk mengembalikan anak dari traumanya, menurut saya memang dengan mengubah lingkungannya. Memang butuh waktu dan dukungan yang besar," lanjut Efnie.

(vit/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads