Agar Terhindar dari Tindak Kekerasan, Yuk Latih Anak Terbuka dengan Ortu

Hari Anak Nasional

Agar Terhindar dari Tindak Kekerasan, Yuk Latih Anak Terbuka dengan Ortu

- detikHealth
Rabu, 23 Jul 2014 18:31 WIB
Agar Terhindar dari Tindak Kekerasan, Yuk Latih Anak Terbuka dengan Ortu
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Tindak kekerasan baik verbal maupun non verbal bisa dialami siapa saja, termasuk anak-anak. Mengingat usianya yang masih 'bau kencur', bukan berarti anak tak bisa menghindari adanya tindak kekerasan lho.

Seperti diutarakan psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi, M.Psi, agar anak terhindari dari tindak kekerasan, orang tua bisa mengajarkan self defense pada buah hatinya. Untuk anak yang masih berusia di bawah lima tahun cara paling praktis adalah dengan mengajari ngadu.

Dalam artian, orang tua membiasakan anak menceritakan apa yang ia alami. Nanti, ketika sudah besar ajarkan anak untuk melakukan penolakan secara verbal misalnya berkata 'tidak mau'. Anak pun perludiajari lingkaran bullying.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semua kekerasan bisa dilakukan siapa saja, baik pengasuh, teman, atau tetangga. Bentuknya bermacam-macam kalau di sekolah misal sama teman disuruh membelikan jajanan, mengerjakan PR, pokoknya sesuatu yang membuat anak tidak nyaman sudah termasuk bullying," papar Ratih.

"Kebiasaan anak terbuka dengan orang tua penting, bukan berarti orang tua kepo. Biasakan sharing terutama saat makan malam, sambil makan tanyakan pada anak apa yang ia alami tadi seharian di sekolah," tambah Ratih saat dihubungi detikhealth, Rabu (23/7/2014).

Saat mendengarkan anak bercerita lalu ada hal-hal tertentu yang dialami anak, orang tua jangan shock. Contohnya ketika mendengar anak dicubit orang tua lantas marah dan menceramahi anak. Jika begitu, justru anak jadi takut dan enggan bercerita.

"Lebih baik diamkan sejenak, setelah anak selesai bicara tanyakan bagaimana pendapat dia tentang perlakuan temannya. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya namun tetap ada kontrol dari orang tua," ucap psikolog di Klinik Tumbuh Kembang Kancil ini.

Orang tua bisa saja berbicara dengan guru bahwa si anak dibully oleh temannya. Tetapi di depan anak, jangan terlalu menonjolkan ayah atau ibu sudah membantu menyelesaikan masalah anak. Jika di depan anak orang tua terlihat membantu dan sangat khawatir, justur akan membuat anak tidak terbiasa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Ketika menghadapi suatu masalah ia akan sangat bergantung pada orang tua dan orang lain. Jika kedua orang tua bekerja dan sibuk, tetap sempatkanlah mengobrol dengan anak.

"Kan bisa pas sarapan atau makan malam. Kira-kira 5-15 menit cukup kok. Perlu diingat saat anak bercerita orang tua jangan sekali-sekali malah asyik dengan gadgetnya," tegas Ratih.

(rdn/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads