Sepertinya cukup rumit memutus hubungan antara rokok dengan anak-anak di Indonesia ya? Untuk mengingatkan kembali seperti apa parahnya fenomena tersebut, simak paparan tentang hal ini seperti dirangkum detikHealth, Selasa (19/8/2014) berikut ini.
1. 'Marlboro Boys'
|
|
Tak hanya DM, ada juga IH. Bocah asal Sukabumi ini tertangkap kamera Siu tengah merokok saat masih mengenakan seragam sekolah.
"Mereka mengisap dan menghembuskannya seperti orang dewasa yang sudah merokok bertahun-tahun. Beberapa dari mereka sudah merokok 2 bungkus perhari sejak masih kecil," kata Siu, dikutip dari Time, Selasa (19/8/2014).
2. Fenomena 'baby smoker'
|
|
Balita asal Sumatera Selatan itu menjadi sensasi media internasional ketika ditemukan tengah mengisap rokok bak pria dewasa, sambil mengendarai sepeda roda tiganya di di sebuah desa miskin di Sekayu, Sumatera Selatan. Ia mengaku sudah ketagihan merokok sejak usianya baru dua tahun.
Bukan hanya AR. Nama lain yang jadi sorotan saat itu adalah SA asal Malang. Diduga karena terpengaruh lingkungannya, Sandi sejak kecil sudah terbiasa merokok, termasuk berkata-kata kotor layaknya orang dewasa.
Bahkan saat itu, SA ditemui langsung oleh tokoh pemerhati anak, Kak Seto dan diajak ke Jakarta untuk menjalani rehabilitasi pada April 2010 silam. Beruntung keduanya kini bisa sembuh dan bersekolah seperti anak-anak seusianya.
3. Project Jernih
|
|
"Orang dewasa perokok itu curang. Mereka seenaknya merokok di dekat anak-anak. Padahal anak-anak kan tidak tahu bahwa asap rokok itu berbahaya," ujar pria yang akrab disapa Ben itu.
Dengan mengusung slogan 'Anak Bukan Asbak', Ben dan rekan-rekannya berupaya mengkampanyekan bahwa merokok di dekat anak tak hanya akan membahayakan sistem pernapasan si anak.
"Kalau merokok di dekat anak-anak terus-menerus kan nanti anak-anak akan terbiasa melihatnya. Lalu timbul anggapan bahwa merokok adalah perbuatan biasa dan tidak berbahaya, yang akhirnya bisa membuat anak menjadi perokok juga nantinya," ujar pria berumur 48 tahun tersebut.
Sejauh ini kegiatan yang sudah dilaksanakan antara lain membagikan pamflet dan poster saat Car Free Day, kampanye melalui media sosial, serta membuat video testimoni dari berbagai kalangan tentang ajakan untuk tidak merokok di dekat anak. Testimoni tokoh-tokoh tersebut dapat dilihat melalui situs ProjectJernih.org, Twitter @projectjernih dan juga akun Facebook Project Jernih.
4. Kontroversi gambar bayi di bungkus rokok
|
|
Ada 5 versi yang ditetapkan pemerintah, yakni gambar kanker paru, kanker mulut, kanker tenggorokan, pria merokok dengan tengkorak di sekitarnya, serta pria merokok sambil menggendong bayi.
Versi gambar terakhir, yaitu pria merokok sambil menggendong bayi dirasa sangat mengena bagi masyarakat Indonesia yang masih terbiasa merokok di rumah atau di dekat anak-anak. Apalagi dari berbagai survei yang dikumpulkan Quit Tobacco Indonesia diketahui bahwa 87 persen perokok Indonesia menghabiskan waktunya untuk merokok di dalam rumah.
Namun demikian, tidak sedikit pula yang menganggap kemunculan gambar bayi kurang tepat. Selain kurang seram, banyak yang menyayangkan kebiasaan buruk merokok di dekat anak justru divisualisasikan.
Menanggapi kenyataan ini, Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak juga menyoroti perlunya menetapkan rumah sebagai salah satu kawasan bebas rokok.
5. Rokok ketengan
|
|
Sayangnya, usulan sejumlah kelompok pro pengendalian rokok untuk melarang jual-beli rokok ketengan tidak dimasukkan ke dalam peraturan tersebut. Padahal larangan ini diharapkan dapat mencegah anak-anak di bawah usia 18 tahun untuk tidak mencoba atau membeli rokok.
Di samping itu, pemerintah juga dirasa perlu membuat kebijakan untuk menaikkan harga jual rokok. "Remaja berbeda dengan orang dewasa, mereka beli pakai uang saku. Jadi saya rasa kenaikan harga (rokok -red-) ini memang ada pengaruhnya," ujar Seto Mulyadi, Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak.
Kendati begitu, kenaikan harga rokok ini juga harus dibarengi dengan pengurangan iklan maupun sponsor rokok yang begitu gencar. Pasalnya Kak Seto mengakui bila anak-anak dan remaja sangat rentan menjadi 'korban iklan' dari industri rokok.
Halaman 2 dari 6










































