Sabtu, 13 Sep 2014 17:26 WIB

Mata Anak Seperti Mata Kucing? Waspadai Retinoblastoma

- detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Retinoblastoma merupakan tumor ganas di dalam mata yang paling sering terjadi pada anak di bawah usia lima tahun. Dua gejala yang paling sering dialami adalah manik putih pada mata dan mata kucing.

Sayangnya, gejala manik putih pada mata dan mata kucing, atau mata bercahaya saat di ruangan gelap, sering salah diagnosis sehingga penanganan medisnya terlambat. Maka dari itu, bagi orang tua atau tenaga medis perlu lebih peka ketika anak memiliki mani putih di matanya atau memiliki mata kucing.

"Maka dari itu dokter di puskesmas atau klinik yang menjadi fasilitas kesehatan tingkat I kalau ketemu pasien anak seperti itu pikirkan retinoblastoma meskipun bisa juga manik mata putih karena katarak," tegas Prof Dr dr Rita S Sitorus MD, PhD, SpM(K) dari RS Cipto Mangunkusumo.

"Caranya, segera rujuk ke dokter spesialis mata sebelum ditegakkan diagnosis apakah gejala itu akibat retinoblastoma atau gangguan kesehatan yang lain," lanjut Prof Rita dalam Seminar Ilmiah 'Mengenali Tanda-tanda Dini Kanker pada Anak' hasil kerja sama Yayasan Onkologi Anak Indonesia dan RS Dharmais di RS Dharmais, Slipi, Jakarta Barat, Sabtu (13/9/2014).

Gejala lain retinoblastoma yang patut diwaspadai adalah mata merah dan mata juling. Sebab, jika sudah membesar, tumor ini bisa menyebar ke sumsum tulang dan sel otak, akan berakibat fatal pada kondisi anak dan bisa menyebabkan kematian.

"Data kami tahun 2004-2005, 8 dari 25 pasien kasus baru telat ditangani karena terlambat datang dan juga diagnosis yang tidak tepat. Maka dari itu perlu adanya deteksi dini dan kepatuhan pengobatan agar peluang kesembuhan pasien juga lebih besar," tutur Prof Rita.

Sebab, konsep pengobatan retinoblastoma dikatakan Prof Rita yakni life survival atau menyelamatkan nyawa pasien terlebih dulu, kemudian ocular survival yakni sampai mata pasien diangkat lalu preservasi fungsi penglihatan. Untuk terapi retinoblastoma, tergantung dari kondisi pasien.

Biasanya akan dilakukan kemoterapi, terapi fokal (laser krioterapi), enukleasi atau pengangkatan bola mata, radiasi, atau kombinasi terapi.

"Saat bola mata anak memang harus diangkat, orang tua tidak perlu khawatir karena akan diberikan bola mata palsu. Sebab nggak sedikit orang tua nggak mau bola mata si anak ini diangkat karena takut nanti matanya bolong. Padahal lebih dini diatasi, kesempatan anak untuk bisa sembuh hidup normal lagi lebih besar," papar Prof Rita.



(rdn/lil)