Anak-anak dalam studi yang sering terpapar pemutih dilaporkan lebih banyak terkena influenza, tonsilitis, dan infeksi lainnya bilang dibandingkan dengan anak yang minim terpapar. Peningkatan infeksi tersebut dikatakan peneliti hanya sedikit namun cukup memberikan bukti untuk mendorong penelitian lain melihat kaitan antara kesehatan dengan bahan-bahan pembersih.
"Tingginya penggunaan produk pembersih disinfektan yang disebabkan oleh keyakinan keliru, didorong oleh iklan, bahwa rumah kita harus bebas dari mikroba memiliki sedikit dampak seperti yang dilaporkan dalam penelitian kami," tulis peneliti dalam laporannya yang dikutip dari jurnal Occupational & Environmental Medicine, Senin (6/4/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr Lidia Casas dari Centre for Environment and Health di Belgia melakukan survey terhadap orang tua dari sekitar 9.100 anak di Belanda, Finlandia, dan Spanyol. Orang tua diminta mengisi seberapa sering anak terserang penyakit infeksi, apakah ada jamur di rumahnya, dan seberapa sering pemutih digunakan.
Setelah mempertimbangkan variabel lain seperti asap rokok, jamur di rumah, dan pendidikan orang tua, peneliti menemukan bahwa anak yang orang tuanya sering menggunakan pemutih lebih sering terkena infeksi. Singkatnya anak ada peningkatan 20 persen untuk terserang flu, 30 persen terkena tonsilitis, dan 18 persen akan mengalami infeksi berulang.
Peneliti berpendapat bahwa ada kemungkinan partikel dalam pemutih bisa mencemari udara ketika dipakai dan mengikis bagian dalam paru-paru anak. Paru-paru yang cidera kemudian akan menjadi rentan terhadap infeksi dan peradangan dari bakteri udara yang dihirup.
Baca juga: Cuci Tangan dan Pakai Hand-Sanitizer: Cara Cegah Flu pada Anak
(fds/vta)











































