Senin, 13 Apr 2015 19:32 WIB

Studi Ini Sebut Perceraian Orang Tua Bisa Picu Stres dan Diabetes pada Anak

- detikHealth
Jakarta - Stres bisa dialami siapa saja, termasuk pada anak-anak. Bahkan, masalah dalam rumah tangga termasuk ketika orang tua harus berpisah juga turut memengaruhi kadar stres yang dirasakan anak dan dapat memengaruhi risiko si kecil terkena diabetes.
 
Baru-baru ini, sebuah studi daru Iniversitas Linkoping, Swedia, menyebutkan bahwa perceraian dan perpisahan dapat meningkatkan risiko anak terkena diabetes tipe 1. Memang, diabetes tipe 2 yang kejadiannya relatif lebih banyak berhubungan dengan gaya hidup. Tetapi, lebih dari 95 persen dari kasus diabetes pada anak-anak adalah tipe 1 dan jumlahnya telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
 
Studi yang dilakukan di Swedia ini bertujuan untuk mengetahui akibat dari konflik keluarga seperti apakah ada perubahan dalam struktur keluarga, campur tangan dari orang lain, pengangguran dan strata ekonomi. Tim peneliti menekankan karena stres terkait masalah keluarga sulit dihindari, maka tiap anggota keluarga memerlukan dukungan untuk mengatasi masalah tersebut.

Pada anak-anak, sudah pasti jika pihak pengayom mereka adalah ayah atau ibunya. Untuk studi ini, peneliti menganalisis 10,000 keluarga dengan usia pernikahan dua sampai empat belas tahun. Masing-masing orang tua diberi kuisioner dan diminta untuk menuliskan apa saja peristiwa dalam kehidupannya, stres yang disebabkan dalam mengurus anak, serta kekhawatiran dengan masalah keuangan. Dari 10.000 keluarga, 58% anak-anak didiagnosis mengidap diabetes tipe 1.

Baca juga : Bahaya, Diabetes Mulai Serang Siswa SMP.

"Meskipun faktor yang menyebabkan diabetes tipe 1 belum dikenali, hal ini biasanya didahului oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang dan membunuh sel beta dalam pankreas yang biasa memproduksi insulin. Stres selama masa kanak-kanak dapat berkontribusi terhadap stres yang dialami sel beta karena meningkatnya resistensi insulin. Belum lagi meningkatnya kadar insulin karena respons stres fisiologis, seperti peningkatan kadar hormon stres kortisol" kata salah satu tim peneliti.

Dikutip dari Telegraph, Senin (13/4/2015), tim peneliti menyimpulkan, berdasarkan beberapa studi sebelumnya, studi ini menyimpulkan bahwa pengalaman peristiwa kehidupan yang serius dan cukup menunjukkan stres psikologis selama 14 tahun pertama kehidupan dapat menjadi faktor risiko diabetes tipe 1. Oleh karena itu, ketika seseorang didiagnosis diabetes tipe 1, dianjurkan pula untuk menilik masalah-masalah yang pernah dialaminya.

"Meski demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah semua orang yang memiliki masalah keluarga akan selalu mengalami stres dan risiko diabetesnya meningkat. Sebab, bisa saja diabetes yang dialami orang tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik dan kebiasaan pola hidup tidak sehat," tutur salah satu peneliti.

Baca juga : Hati-hati, Depresi Akibat Perceraian Bisa Berujung Pada Penyakit.



(rdn/vit)
News Feed