Sang ibu menemukan ada benjolan kecil di dekat mata putrinya, dan mengira itu hanyalah jerawat. Tanpa disangka, beberapa bulan kemudian benjolan ini tumbuh dan membuat mata anaknya membengkak.
"Awalnya hanya benjolan kecil dan kami benar-benar mengabaikannya selama beberapa bulan, hingga ia mengeluh kesakitan dan penglihatannya kabur," ungkap sang ibu, Karan.
Baca juga: Berkat Lampu Flash Kamera, Bocah Ini Selamat dari Retinoblastoma
Sang ayah, yang hanya diketahui bernama Mr Singh (45), mengaku gejala penyakit yang dialami putrinya, Aarti mulai muncul di akhir tahun 2013. Akan tetapi ketika si kecil mengeluh kesakitan, mereka hanya memberinya obat rumahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Retinoblastoma merupakan salah satu jenis kanker langka yang tumbuh dengan cepat pada anak-anak. Biasanya kanker ini tumbuh dari sel-sel yang ada di retina pasien. Sayangnya, gejala awal retinoblastoma pada diri Aarti diabaikan oleh orang tuanya selama beberapa waktu.
Mengetahui kondisi Aarti sudah parah, tim dokter dari rumah sakit MY pun segera melakukan pengobatan. Kendati begitu, mereka menampik bahwa penyebab utama kanker ini adalah benjolan kecil di mata Aarti. Menurut mereka, kondisi Aarti menjadi kritis karena orang tuanya telat membawanya ke rumah sakit.
"Kalau saja ia dibawa lebih awal, mungkin kami masih bisa menyelamatkan matanya. Tapi sekarang tumornya sudah begitu besar sehingga sulit dioperasi," tutur kepala bagian bedah mata rumah sakit MY, Dr Ulka Srivastava.
Bagaimana dengan kemoterapi? Dr Srivastava menambahkan, karena kadar hemoglobin dalam darah bocah berusia tujuh tahun itu sangat rendah, mereka belum bisa melakukannya. "Jadi kami harus menaikkan hemoglobinnya dulu, barulah setelah itu ia bisa dikemoterapi," katanya.
Persoalan lain, kanker ini telah menyebar hingga ke otak Aarti. Ini artinya peluang hidup Aarti terbilang rendah. Dr Srivastava mengatakan hanya mukjizat yang bisa menyelamatkan Aarti.
Baca juga: Tahi Lalat yang Tumbuh di Bola Mata Juga Punya Kemungkinan Membesar
Kini orang tua bocah malang itu hanya bisa menyesali ketidakpedulian mereka, dan berharap putrinya masih tetap hidup walaupun tak sempurna lagi. "Tak ada hukuman yang lebih buruk lagi bagi orang tua selain melihat darah dagingnya meninggal, apalagi jika kamilah yang membunuhnya," tutup Singh penuh sesal.
(lll/up)











































