Prof Endang L Achadi, pakar gizi medik dari FKM UI mengatakan bahwa gen bukan faktor paling penting dalam menghitung potensi tinggi badan maksimal seseorang. Menurutnya, faktor gen dalam tinggi badan seseorang tak lebih dari 20 persen.
Baca juga: Dokter Gizi Ungkap Risiko Lain Hamil di Usia Terlalu Muda
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prof Endang mengambil contoh orang-orang Jepang. Sama-sama orang Asia, namun rata-rata tinggi orang Jepang melebihi orang Indonesia. Padahal 20 hingga 30 tahun lalu, orang Indonesia masih dianggap lebih tinggi dari orang Jepang.
Menurut Prof Endang, kesejahteraan serta kecukupan gizi merupakan faktor utama mengapa tinggi seseorang bisa berbeda-beda. Dalam waktu 30 tahun, Jepang bisa mengubah negara korban perang menjadi salah satu negara dengan perekonomian paling baik di Asia.
"Kita semua tahu bahwa Jepang kalah pada perang dunia kedua kemarin. Tapi mereka bangkit, tidak terpuruk dan mengedepankan kecukupan makanan dan gizi bagi masyarakat. Hasilnya seperti kita lihat sekarang, orangnya tinggi-tinggi dan Jepang juga salah satu negara maju di Asia," paparnya lagi.
Contoh lainnya adalah perbedaan tinggi badan anak usia sekolah di Indonesia. Prof Endang pernah melakukan penelitian soal tinggi badan anak-anak SD di beberapa sekolah negeri di daerah miskin, dengan sekolah swasta di daerah berkecukupan.
Hasilnya bisa terlihat dari tinggi badan anak-anak di sekolah swasta yang jauh lebih tinggi dari anak seusianya di sekolah negeri daerah miskin. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa sekali lagi, kecukupan gizi bukanlah soal kaya atau tidaknya orang tua.
Baca juga: Indonesia, Salah Satu dari 17 Negara dengan Masalah Gizi Cukup Berat
"Bukan masalah kaya atau miskinnya yang harus dilihat. Kalau nggak bisa beli daging, kan bisa beli tahu atau tempe yang nilai gizinya sama. Masalah gizi ini sangat kompleks nggak hanya soal makanan apa yang dimakan sama anak," urainya lagi.
Faktor lain yang harus dilihat adalah sanitasi dan kebersihan lingkungan tempat tinggal. Dengan gizi yang kurang ditunjang dengan lingkungan yang tak bersih, anak akan jadi lebih mudah sakit, yang tentu saja membuat penyerapan gizi tak optimal. (mrs/up)











































