Jumat, 26 Jun 2015 18:34 WIB

Awas! Sering Kejang Demam, Anak Lebih Berisiko Kena Epilepsi

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Hingga titik tertentu, demam disertai kejang boleh dibilang wajar terjadi pada anak-anak. Namun jika terlalu sering, maka anak tersebut menghadapi risiko epilepsi lebih tinggi di kemudian hari.

"Tidak selalu jadi epilepsi, tapi risikonya memang lebih tinggi jika anak sering mengalami kejang demam. Terutama pada anak di bawah usia 1 tahun," kata dr Irawati Hawari, SpS, dokter saraf dari Rumah Sakit Umum (RSU) Bunda Menteng, Jumat (26/6/2015).

Kejang karena demam, menurut dr Irawati, wajar dialami anak pada usia 1-5 tahun. Durasinya berlangsung beberapa detik hingga 1 menit. Jika kejang berlangsung lebih lama, maka harus diwaspadai karena kejang selama 3-5 menit sudah bisa memicu kerusakan otak.

Baca juga: Bayi Nangis Kejer Lalu Pingsan Beberapa Detik, Apa yang Terjadi?

Sering tidaknya anak mengalami kejang karena demam sangat dipengaruhi oleh ambang atau toleransi terhadap pemicu kejang yakni demam. Beberapa anak sudah kejang pada suhu 38 derajat celcius, beberapa yang lain tidak pernah kejang meski mencapai 40 derajat celcius.

Namun jika dianggap terlalu sering mengalami kejang dan dicurigai mengidap epilepsi, maka sebaiknya anak tersebut diperiksakan ke dokter untuk menjalani tes EEG (electroencephalogram). Jika hasil EEG normal sekalipun, tidak bisa langsung disimpulkan bahwa anak tersebut tidak epilepsi.

"Jika EEG dilakukan di luar bangkitan (serangan kejang), hasilnya pasti normal. Maka saat EEG diberi stimulasi biar aktivitas otak saat kejang bisa terekam," tambah dr Irawati.

Jika mendapat penanganan yang baik, anak dengan epilepsi bisa hidup sehat sampai dewasa. Penanganan dilakukan melalui pemberian Obat Anti Epilepsi (OAE), atau melalui operasi bedah dan pemasangan implan antikejang jika pemberian obat sudah tidak mempan.

Baca juga: Waduh! Pria Ini Sedang Terjun Bebas, Epilepsinya Kambuh

(up/vit)