Saat Balita, Tumor Sebesar Bola Rugby Diangkat dari Indung Telur Emily

Saat Balita, Tumor Sebesar Bola Rugby Diangkat dari Indung Telur Emily

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Jumat, 21 Agu 2015 13:09 WIB
Saat Balita, Tumor Sebesar Bola Rugby Diangkat dari Indung Telur Emily
Emily dan ayahnya, Jason (Foto: Julia Sidwell/Daily Mail)
London - Betapa nelangsanya hati ibu ini ketika mengetahui jika benjolan di dada dan pusar bayi perempuannya tak lain adalah tumor.

Hari itu November 2003, Rachel Surridge menjemput putrinya, Emily yang masih bayi dari tempat penitipan. Sesampainya di rumah, ia menemukan ada dua benjolan di dada Emily yang masih mungil.

Tak mau terjadi apa-apa, Rachel memutuskan segera membawa Emily ke rumah sakit. Di sana dokter memastikan tak ada masalah dengan putrinya. Namun berhari-hari kemudian, wanita itu menemukan benjolan lain di bawah pusar Emily.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah diperiksakan sekali lagi ke dokter, Rachel diminta membawa Emily ke rumah sakit lain untuk menjalani serangkaian tes. Sang suami, Jason kemudian menyusul ke rumah sakit. Pasangan ini lantas diberitahu bahwa dokter menemukan sebuah massa di dalam perut Emily, hanya saja mereka belum mengetahui apa massa itu sebenarnya.

Kesehatan Emily terus memburuk setelah itu. Saat itulah Rachel dan Jason menerima diagnosis dari dokter. Kata dokter, massa di dalam perut Emily adalah 'juvenile granulosa cell tumour', salah satu jenis kanker anak yang sangat langka dan menyerang ovarium atau indung telurnya.

Bahkan dokter menambahkan, Emily merupakan pasien termuda di Inggris yang dinyatakan mengidap penyakit tersebut.

Baca juga: Umur 9 Tahun, Bocah Ini Jadi Pasien Kanker Testis Termuda di Dunia

"Mendengar berita itu rasanya seperti dipukul dengan batu, karena kami tak pernah mengira anak-anak bisa kena kanker ovarium," tutur Jason seperti dikutip dari Daily Mail, Jumat (21/8/2015).

Satu-satunya opsi untuk menyelamatkan nyawa Emily adalah dengan operasi. Pasalnya tumor itu tumbuh dengan cepat dan bila tidak segera diangkat, dikhawatirkan akan merenggut nyawa Emily hanya dalam hitungan minggu.

Tindakan operasi akhirnya digelar beberapa hari kemudian, dengan mendatangkan tim bedah dari Eropa. Tim dokter mewanti-wanti bilamana mereka harus mengangkat seluruh indung telur Emily, meskipun Rachel mengaku berat hati menerimanya.

Prosedur ini berlangsung hingga tiga jam lamanya. Sayangnya walaupun mereka telah berupaya untuk tidak mengangkat seluruh organ reproduksi Emily, kenyataannya mereka justru harus mengambil ovarium kanan dan tuba falopinya untuk mencegah tumornya tumbuh lagi. Lagipula ketika diangkat, tumor di tubuh Emily ternyata telah sebesar bola rugby.

Tim dokter akhirnya sukses membedah Emily, namun kondisinya tidak lantas membaik. "Tak ada yang tahu mengapa bisa begini, bahkan laju napasnya perlahan melambat. Emily juga tidak bisa minum," kisah Rachel.

Beruntung kondisi kritis ini bisa dilewati Emily dan perlahan tapi pasti ia mulai memperlihatkan kemajuan. Bahkan pada bulan Desember, ayah ibu Emily dikabari dokter bahwa putri mereka dinyatakan bersih dari kanker.

Baca juga: Terserang Kanker Ovarium di Kala Muda, Masih Bisakah Punya Anak?

Kini Emily tumbuh menjadi seorang gadis remaja berusia 14 tahun. Namun ia masih harus menjalani check-up rutin tiap empat tahun sekali di Great Ormond Street Hospital. Yang tak kalah menggembirakan, dokter mengatakan bahwa Emily masih bisa punya anak di masa depan.

(lll/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads