Agar Anak Tak Tantrum, Yuk Latih Ia Mengekspresikan Perasaannya

ADVERTISEMENT

Agar Anak Tak Tantrum, Yuk Latih Ia Mengekspresikan Perasaannya

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Jumat, 21 Agu 2015 18:34 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Mengajarkan anak aneka bentuk emosi memang penting agar anak bisa melakukan regulasi emosi. Apalagi, pengaturan emosi akan membuat anak lebih mudah mengekspresikan perasaannya dan menghindarkan si kecil dari sifat tantrum.

Terkait pemahaman emosi, peneliti dari Brigham Young University menemukan di usia 3-4 tahun anak sudah bisa mulai memahami emosi yang ia tunjukkan. Untuk studinya, penelitian yang dilakukan Darren Garcia dan Rebecca Janis ini meminta 144 anak usia 3-6 tahun untuk ikut lomba membuat bangunan dari lego.

Pada anak usia 3 tahun, ketika mereka menang, ekspresi menyombongkan diri bisa dilakukan misalnya dengan berkacak pinggang, mengangkat kepala, atau membusungkan dada. Namun, ketika semua anak disodori empat foto yang menunjukkan aneka ekspresi emosi seperti sedih, bangga, bahagia, dan marah, pemahaman emosi lebih banyak terjadi pada anak di usia 4 tahun.

"Anak-anak di studi ini, bisa tahu ekspresi bangga itu seperti apa di usia 4 tahun. Dia kemudian bisa melihat ekspresi itu pada diri mereka sendiri saat berusia 5 tahun. Lewat studi ini, kami ingin menggambarkan tahapan perkembangan anak yang penting untuk mereka dalam keterampilan mengatur emosinya," kata profesor psikologi Ross Flom yang membimbing para peneliti.

Baca juga: Beragam Penyebab Anak Tantrum Ketika Marah Atau Kesal

Untuk itu, Flom menyarankan orang tua untuk mulai mengajarkan anak mengeskpresikan perasaannya saat akan menginjak usia 3 tahun. Dikutip dari Essential Kids, psikolog Louise Porter berpendapat lain karena menurutnya anak-anak bisa diajarkan aneka emosi bahkan sejak ia bayi. Hanya dengan mengajak bayi bicara ketika ia menangis menurut Porter sudah bisa mengajarkan emosi yang dirasakan orang tua.

Dalam bukunya Play and Learn, dr Meta Hanindita SpA menuturkan stimulasi emosi pada anak dapat dimulai sedini mungkin. Menurutnya, sering-seringlah membuat anak merasa nyaman dengan pelukan, ciuman, atau belaian serta jangan biarkan anak menangis terlalu lama dan segera respons tangisannya.

"Pada anak usia di atas 2 tahun, kenalkan beragam emosi. Misalnya saat anak menangis, tanya kenapa dia menangis? apa sedih karena akan ditinggal kerja? dengan begini anak jadi mengerti sedih itu rasanya seperti itu sehingga anak akan terbiasa mengenali emosi dan belajar menilai sendiri emosi yang sedang dialaminya," tutur dr Meta dan dikutip pada Jumat (21/8/2015).

Untuk melatih anak mengatur emosinya, dr Meta selalu mengajak putrinya berbicara. Ibu satu anak ini juga menerapkan aturan jika anak menangis atau marah, sang mama tidak akan mengerti maksud dia sehingga masalah tidak akan selesai.

Baca juga: Kurang Kasih Sayang Bisa Bikin Anak Tantrum Ketika Marah dan Kesal

(rdn/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT