Sebuah penelitian terbaru membuktikan hal ini. Peneliti mengklaim anak-anak yang tinggal di dekat kawasan reaktor nuklir Fukushima berisiko lebih besar didiagnosis dengan kanker tiroid.
Tak tanggung-tanggung, risiko mereka mencapai 50 kali lipat dari anak yang tinggal di daerah lain di Jepang yang tidak terdampak radiasi nuklir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari hasil pemeriksaan terbaru, atau tepatnya pada bulan Agustus lalu, menunjukkan bahwa kanker tiroid ditemukan pada 137 anak, baik yang masih dugaan atau baru memperlihatkan gejala maupun yang sudah dipastikan.
Padahal tahun lalu, yang terdeteksi memiliki gejala kanker tiroid hanyalah 112 anak. Dan bila dibandingkan dengan daerah yang tidak terdampak radiasi lainnya di Jepang, anak yang dinyatakan terkena kanker tiroid dalam setahun hanya 1-2 dari 1.000.000 anak.
"Ini lebih dari yang kami perkirakan, bahkan 20-50 kali lebih cepat dari yang normalnya," ungkap Toshihide Tsuda dari Okayama University seperti dikutip dari Science Alert, Selasa (13/10/2015).
Tsuda menambahkan cepatnya deteksi kanker ini tidak terlepas dari upaya check up rutin yang dilakukan di daerah terdampak radiasi tinggi seperti di sekitaran Fukushima Dai-ichi.
Sebelumnya WHO juga telah mengaitkan kanker tiroid dengan Tragedi Chernobyl di tahun 1986, terutama di daerah yang paling terkontaminasi, di Belarus, Rusia dan Ukraina.
Baca juga: Empat Tahun Ditutup karena Radiasi, Kota Naraha di Jepang Kembali Dibuka
Risiko tingginya insidensi kanker tiroid pada anak dan remaja di daerah yang terkena radiasi murni disebabkan oleh kelenjar tiroid yang selalu membutuhkan iodine untuk memproduksi berbagai hormon yang dibutuhkan dalam metabolisme.
Akan tetapi kelenjar dapat menyerap iodine dari berbagai sumber, dan mereka tak dapat membedakan iodine biasa yang cenderung stabil dengan iodine radioaktif yang dilepaskan saat bencana nuklir.
Lagipula, kelenjar tiroid pada anak-anak dan dewasa cenderung tumbuh lebih cepat ketimbang setelah beranjak dewasa, sehingga kelenjar ini menjadi salah satu organ tubuh yang paling sensitif terhadap paparan radiasi. Di samping itu, iodine radioaktif atau biasa disebut dengan 131I ini juga membahayakan janin yang belum lahir.
Kendati demikian, peneliti masih kesulitan untuk menemukan keterkaitan langsung antara radiasi dengan risiko kanker. Salah satu persoalan terbesarnya adalah karena anak-anak di sekitaran Fukushima Dai-ichi menjalani program screening secara rutin sejak tahun 2011. Dengan kata lain masih sulit ditentukan apakah ini benar-benar karena radiasi dari bencana nuklir ataukah screening itu sendiri.
Baca juga: Diduga Efek Radiasi, Bayi 'Cyclops' Bermata Satu Lahir di Mesir
Penelitian lain yang dilakukan di Prancis juga menemukan para pekerja di instalasi nuklir, termasuk tenaga kesehatan berisiko lebih besar terserang leukemia atau kanker darah karena paparan radiasi yang mereka hadapi, bahkan yang kadarnya rendah sekalipun.
Dari penelitian yang mereka lakukan selama 27 tahun, rata-rata partisipan terpapar 16 mGy (miligray) radiasi nuklir selama studi dilakukan. Padahal setiap terpapar 1.000 mGy, potensi terserang leukemia bisa meningkat hingga tiga kali lipat. (lll/up)










































