MenurutĀ psikolog dari Universitas Indonesia, Nathanael EJ Sumampouw, MPsi jika anak membandingkan adegan di game yang hanya rekayasa dengan kejadian di dunia nyata, orang tua dapat menjelaskan bahwa di dunia nyata memang ada orang yang tidak suka dengan kelompok lain dan akhirnya membuat keributan.
"Tapi patut ditekankan bahwa ada juga, bahkan lebih banyak orang yang hidupnya damai dan tidak membuat keributan," kata pria yang akrab disapa Nael ini dalam temu media di Nutrifood Inspiring Centre, Menteng Square Apartment, Matraman, Jakarta, Selasa (19/1/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Cara Tepat Menjelaskan Soal Teror Bom pada Anak Usia Sekolah Dasar
Pria berkacamata ini menambahkan, sudah menjadi rahasia umum banyak dampak negatif yang dialami anak ketika mereka terlalu sering terpapar game dengan unsur kekerasan. Sehingga, Nael menekankan pentingnya perang orang tua untuk mengalihkan kegiatan anak agar tidak terlalu banyak main game.
"Lakukan aktivitas bersama dengan anak karena tanpa melakukan itu, sama aja anak akan lebih banyak menghabiskan waktunya main game. Agar orang tua bisa dekat dengan anak, rumusnya DHA yaitu disiplin, hangat, dan itu tadi, aktivitas," kata Nael.
Agar tidak timbul sentimen anak pada kelompok tertentu, Nael menyarankan para orang tua agar berlaku bijak dan tidak 'mewarisi' stereotipe negatif yang bias serta tidak objektif. Menurut Nael, menjadi hal yang tidak tepat jika orang tua menegaskan pada satu kelompol tertentu yang dianggap salah dan bertanggung jawab atas suatu kejadian.
"Ke depannya anak akan berinteraksi dengan berbagai kelonpok. Ketika pertanyaan apakah kelompok tertentu adalah pihak yang salah dari suatu kejadian, kemukakan fakta bahwa kita di dunia ini penuh keberagamn. Misalnya katakan mama punyta teman, dia dari kelompok X tapi dia baik kok," pungkas Nael.
Baca juga: Psikolog: 1 dari 10 Anak Kecanduan Video Game
(rdn/vit)











































