Sebuah yayasan amal kanker terkemuka di Inggris, CLIC Sargent baru-baru ini merilis hasil survei mereka. Dalam survei tersebut terungkap 42 persen orang tua merasa dokter mengabaikan gejala kanker yang mereka temukan pada putra-putrinya.
Sebagai pihak yang dianggap tahu persis kondisi kesehatan anak-anaknya, orang tua-orang tua ini justru merasa sering tidak didengarkan, atau jika tidak, mereka merasa dokter tak punya waktu untuk mendengarkan keluhan maupun kekhawatiran mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang sama juga berlaku untuk pasien kanker muda dengan usia berkisar 16-24 tahun yang ikut ambil bagian dalam survei ini. 44 persen di antaranya mengaku gejala kanker yang terlihat pada diri mereka tidak dianggap serius, hingga mereka harus bolak-balik ke dokter atau rumah sakit dulu sebelum akhirnya benar-benar memperoleh diagnosis yang tepat. Di antara pasien muda ini, separuh lebih atau 53 persen mengklaim terlambat mendapat diagnosis.
Baca juga: Yuk, Kenali Gejala Kanker Pada Anak-anak Sejak Dini
Padahal separuh dari orang tua yang anaknya terlambat mendapatkan diagnosis juga merasakan dampak nyata dari keteledoran ini, yaitu terhadap prognosis atau peluang hidup anak-anak mereka. Dan 63 persen di antaranya mengatakan, keterlambatan itu memberikan dampak negatif terhadap kesejahteraan emosional anak-anak mereka.
Tak tanggung-tanggung, 93 persen pasien kanker muda yang terlambat memperoleh diagnosis mengaku merasakan stres atau gangguan emosional lainnya ketika harus dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka mengidap penyakit kronis, dan hal ini terlambat didiagnosis, artinya ketika kondisinya dipastikan, si pasien sudah berada pada stadium tinggi.
"Tentu tidak bisa diterima jika ternyata begitu banyak orang dan pasien muda yang menganggap dokternya mengabaikan kekhawatiran mereka," kata Kate Lee, kepala eksekutif CLIC Sargent seperti dikutip dari CharityToday.co.uk, Senin (15/2/2016).
Namun di sisi lain, CLIC Sargent juga mengungkap 46 persen dokter umum di Inggris mengaku tidak mendapatkan pelatihan yang memadai untuk mengidentifikasi kanker pada anak-anak dan pasien muda. 50 persen lainnya mengakui bila diberi waktu konsultasi lebih lama, mereka mungkin memiliki kesempatan lebih untuk membantu mengidentifikasi potensi kanker pada anak-anak dan pasien muda.
"Sebenarnya kanker pada anak dan pasien muda merupakan kasus yang jarang ditemukan, jadi seharusnya tiap dokter umum hanya dihadapkan pada satu-dua kasus dalam sepanjang karirnya," lanjut Lee.
Dengan survei ini, CLIC Sargent ingin NHS (National Health Service) sebagai penyedia fasilitas kesehatan utama di Inggris setidaknya melakukan riset untuk melihat dampak pemberian diagnosis kanker yang tertunda terhadap tingkat kesembuhan dan peluang hidup pasien kanker anak ataupun remaja.
"Dalam rangka meningkatkan pelayanan pada pasien kanker muda, NHS seharusnya juga mengambil langkah-langkah nyata yang dapat menunjukkan dukungan mereka terhadap upaya untuk mengidentifikasi kanker pada anak sedini mungkin," saran Dr Julia Chisholm, ahli kanker anak dari The Royal Marsden Hospital.
Baca juga: Obat Kanker Anak Susah Dicari, JKN Diharapkan Bisa Beri Solusi (lll/vit)










































